Iswadi

Teknik Pembenihan Ikan Papuyu (Anabas testudineus Bloch)

April 28, 2008 · 6 Comments

26/06/03 – Informasi: Teknologi
Teknik Pembenihan Ikan Papuyu (Anabas testudineus Bloch)

PENDAHULUAN

Ikan Papuyu merupakan ikan lokal air tawar yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan digemari oleh masyarakat Kalimantan terutama masyarakat Kalimantan Selatan, tetapi belum banyak dibudidayakan. Untuk itu diperlukan usaha pembenihan guna kontinuitas suplai benih yang memenuhi syarat kualitas dan kuantitasnva.
Usaha pembenihan bertujuan untuk menghasilkan benih dalam jumlah besar, sehingga tidak tergantung pada ketersediaan di alam yang pada akhirnya dapat menunjang kegiatan usaha pembesaran dan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani ikan sekaligusdapat menunjang peningkatan produksi budidayanya. Juga turut serta dalam upaya pelestarian plasma nuftah pada umumnya dan khususnya ikan Papuyu.

BIOLOGI IKAN PAPUYU


Sistematika menurut Hasannudin Saanin (1984) sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Labytinthichi
Famili : Anabantidae
Genus : Anabas
Species : Anabas testudineus Bloch

Nama Daerah : Betik Jawa dan Sunda, Papuyu (Banjarmasin), Puyu (Malaya) dan Kalimantan Timur, Geteh-geteh (Manado).

Nama Umum : Walking Fish atau Climbing Perch.

PEMBENIHAN

Tahapan kegiatan pembenihan ikan Papuyu meliputi seleksi induk. pemijahan. penetasan telur dan pemeliharan larva.

1. Seleksi Induk

a. Ciri-ciri induk jantan dan betina


Betina :

  • Tubuh gemuk dan lebar kesamping,
  • Warna badan agak gelap,
  • Sirip punggung lebih pendek,
  • Bagian bawah perut agak melengkung,
  • Jika matang gonad pada bagian perut diurut akan keluar telur,
  • Alat kelamin berwarna kemerah-merahan.

Jantan :

  • Tubuh ramping dan panjang,
  • Warna badan agak cerah,
  • Sirip punggung lebih panjang,
  • Bagian bawah perut rata,
  • Jika perut diurut akan keluar cairan sperma berwarna putih susu.

b. Beberapa persyaratan induk

  • Ukuran induk betina yang ideal diatas 90 gram dan jantan diatas 30 gram,
  • Badan terlihat segar (tidak cacat) dan gerakannva lincah,
  • Mampu menghasilkan telur dalam jumlah cukup banyak,
  • Umur induk lebih dari 10 bulan,
  • Pertumbuhannya cepat.

2. Pemijahan

a. Bahan dan alat

  • Induk ikan papuyu yang matang gonad
  • Ovaprim
  • Aquabidest
  • Akuarium ukuran 60 x 40 x 45 cm
  • Alat suntik
  • Alat aerasi (Hi-Blow/Aerator)
  • Baskom, serok senter dan timbangan

b. Perlakuan

Ikan Papuyu memijah sepanjang musim penghujan, pada saat musimnya mampu memijah 2 – 3 kali dengan jumlah telur (fekunditas) 5.000 – 15.000 butir. Pemijahan dilakukan dengan induced breeding (kawin suntik) menggunakan hormon ovaprim, dosis penyuntikan 0,5 cc/kg induk. Perbandingan 1: 1 (dalam berat). Pemijahan dapat dilakukan di akuarium atau fibre glass. Penyuntikan secara intramuscular pada otot punggung induk. Induk betina 2 kali penyuntikan dan induk jantan 1 kali penyuntikan. Interval waktu penyuntikan I ke penyuntikan II adalah 6 jam. Penyuntikan induk jantan bersamaan pada saat penyuntikan II induk betina. Proses terjadinya ovulasi tanpa dilakukan stripping (pemijahan secara alami).

3. Penetasan Telur

Setelah penyuntikan II induk betina, maka ovulasi akan terjadi 5 jam berikutnya. Telur akan menetas dalam waktu 20 – 24 jam pada suhu 260C atau akan menetas dalam waktu 12 jam pada suhu 300C. Prosentase dari telur yang dibuahi sekitar 95% dengan daya tetas (HR) 95%. Penetasan telur bisa langsung di akuarium atau langsung ke tempat Pendederan I jika sudah siap.

4. Pemeliharaan Larva

Larva yang baru menetas tidak perlu diberi makanan tambahan sebab masih mempunyal cadangan makanan dari kantong kuning telur (yolk egg).Setelah larva berumur 4 hari diberi makanan tambahan berupa suspense kuning telur. Frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari (pagi, siang dan sore) selama 10 hari. Setelah itu bisa diberikan makanan pellet yang dihaluskan. Masa kritis larva terjadi pada saat hari ke-7 sampai hari ke-14. Pendederan larva dilakukan di kolam semi permanen, dimana kolam tersebut terlebih dahulu dilakukan pengolahan lahan dengan diberi dosis pupuk dan kapur sesuai anjuran.

Pemeliharaan ini selama 45 hari dengan padat tebar 50 ekor/m . Selama masa pemeliharaan 45 hari benih ikan diberi pakan tambahan berupa pellet yang dihancurkan sebanyak 10 – 20% per hari dengan frekuensi pemberian 2 kali/hari. Umur 45 hari sudah mencapai benih ukuran 1 – 3 cm, dan benih bisa dipanen untuk di tebar ke kolam pendederan berikutnya.

 



Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

→ 6 CommentsCategories: Uncategorized

Budidaya Ikan Severum

April 28, 2008 · Leave a Comment

[ kembali ]
14/08/03 – Informasi: Teknologi
Budidaya Severum

lkan ini berasal dari Amerika Selatan sampai Amazona kecuali sungai Magdalena. Tubuh Severum pendek, gemuk dan gepeng. Warna dasar tubuhnya bervariasi antara coklat kekuning-kuningan dan hitam kecoklatan. Pada tubuhnya banyak terpatri bintik-bintik dan terkadang polos saja, kadang-kadang nampak bercak-bercak hitam. Sifat yang menonjol dari Severum hampir sama dengan sifat ikan Oscar yaitu suka mengaduk-aduk tanaman dalam akuarium dan membuat lubang pada dasar yang berbatu-batu. Sifat lain diantaranya adalah terbilang ganas bila sedang birahi, karenanya Severum lebih cocok apabila dipelihara dengan ikan yang sama besamya.
Memilih induk

  • lnduk yang akan dipijahkan berumur antara 10-12 bulan dan ukuran tubuhnya 12-15 cm.
  • lnduk jantan bertubuh lebih besar dengan wama cerah clan berbintik-bintik lebih jelas.
  • lnduk betina bertubuh agak kecil, bulat dengan wama lebih pucatdan bintik-bintiknya kurang jelas.
  • Jika telah matang kelamin induk betina berwarna lebih cerah selama masa birahinya, sedangkan yang jantan berwarna lebih gelap dan bergaris-garis pada badannya lebih kelihatan.

Pemijahan

  • Sediakan akuarium berukuran agak luas dengan ketinggian air 30-40 cm, atau bak semen ukuran 1 x 2x 0,5 cm.
  • Air bersih dati sumur/ PAM yangtelah diendapkan selama 24 jam.
  • Pasang filter clan aerator.
  • Suhu air antara 21-25 0C dan pH antara 5,5-7.
  • Masukkan batu pipih tempat meletakkan telur.

lnduk yang telah matang kelamin dimasukkan ke dalam tempat pemijahan yang telah dipersiapkan. Telur yang telah dibuahi akan diletakkan pada batu pipih. Telur itu secara seksama akan dijaga oleh kedua induknya. Agar lebih praktis, telur yang melekat dipindahkan ke tempat lain atau akuarium yang telah dipersiapkan. Hari ketiga telur akan menetas dan baru bisa berenang setelah umut 6 hari. Tiga hari setelah menetas boleh diberi makanan berupa anak dafnia atau larva artemia yang baru menetas.

Pendederan
Pendederan benih dapat dipakai bak semen atau akuarium, tinggi air cukup 40 cm. Benih yang berusia 2 minggu dapat dipelihara dalam bak ukuran 2 m2 sebanyak 1.000 ekor. Selama pendederan sebaiknya dilakukan sortasi, yaitu yang tumbuh lebih cepat segera dipisahkan agar tidak saling menyerang terutama dalam perebutan makanan.

Keterangan Gambar : Banded Chiclio (Chichlasoma severum)

 
Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

Budidaya Manvis

April 28, 2008 · Leave a Comment

Manvis dikenal juga sebagai Angelfish, merupakan salah satu ikan hias yang sangat digemari oleh masyarakat. Ikan ini bukan asli Indonesia, berasal dari perairan sungai Amazona di Amerika Selatan. Manvis mempunyai bentuk dan warna tubuh serta gerak gerik yang sangat indah dan menarik, dan sangat cocok untuk dipelihara di akuarium ebagai pajangan. Keindahannya dapat memeberi kesan tersendiri bagi yang memandangnya. Penggemarnya banyak dan harganya relatif tinggi. Budidaya Manvis di Indonesia telah berkembang dengan pesat baik sebagai kesenagan maupun usaha komersial.

Tempat Hidup
Secara alami Manvis hidup diperairan yang tenang dan banyak tanamannya. Oleh karena itu bila Manvis dipelihara didalam akuarium yang terlalu terang dan banyak ikannya, kelihatan gelisah. Cocok sekali bila dipelihara dalam akuarium bersama jenis ikan yang garaknya lamban
Manvis sangat sayang terhadap anaknya. Ia dengan cepat melindungi anaknya bila ada gangguan dari luar dengan jalan menyimpan didalam mulutnya. Sifat seperti kurang menguntungkan pada saat pemijahan, karena itu tempatnya harus benar-benar aman. Dalam usaha budidaya, biasanya peternakan Manvis di DKI Jakarta menggunakan kolam yang terbuat dari semen.

Cara Pemijahan
Untuk memijahkan Manvis hndaknya digunakan induk yang benar-benar sudah dewasa dan matang telur, agar bisa didapatkan anakan yang bagus dan sehat. Ini akan memudahkan dlam pemeliharaan selanjutnya. Manvis siap memijah setelah beumur 9-12 bulan. Setiap kali memijah dapat menghasilkan 300-400 anak.

Pemilihan induk:
Jenis kelamin Manvis dapat dibedakan dengan melihat bentuk dari bagian-bagiannya:

a. Induk jantan

  • Pada umur yang sama, ukuran lebih besar dari induk betina
  • JIka dipndang dari atas, perut kelihatan ramping
  • Kepala agak besar, bagian antara mulut dan punggung berbentuk garis cembung

b. Induk betina

  • Ukuran relatif lebih kecil dari induk jantan
  • Perut agak membesar dan menonjol
  • Kepala agak kcil dan bagian antara sirip punggung dan kepala membentuk garis lurus

Tempat Pemijahan

Ada beberapa tempat yang harus digunakan antara lain kolan dan akuarium

1. Kolam

  • Kolam dibuat dari tanah biasa atau dari semen, berukuran 1 meter persegi dengan kedalaman 80 cm
  • Kolam yang masih baru tidak boleh langsung digunakan, bau semennya harus dihilangkan terlebih dahulu, dengan cara direndam dengan air selama beberapa hari. Untuk lebih cepatnya dapat ditambahkan pelepah pohon pisang
  • Setelah bau semen hilang, direndam lagi dengan air biasa selama 4 hari, selanjutnya dibersihkan lagi dan dikeringkan
  • Pada saat akan dipakai, kolam diisi dengan air tawar sampai kedalaman 30-60 cm
  • Bila kolam pemijahan terletak di tempat terbuka perlu diberi tanaman air, misalnya enceng gondok untuk memberi suasana teduh dan tenan

2. Akuarium

  • Akuarium yang digunakan berukuran sedang yaitu panjang 100 cm, lebar 75 cm dan tinggi 50 cm, dengan tebal kaca 5-6 mm
  • Sebelum digunakan akuarium dibersihkan terlebih dahulu. Kemudian diisi air dengan ketinggian 30-40 cm
  • Didalam akuarium diberi pecahan genteng untuk memberi bau air yang alami
  • Selanjutnya induk yang telah dipilih dapat dipijahkan secara berpasanagan

Seperti ikan Chiclid lainnya, Manvis menempelkan telurnya yangtelah dibuahi pada suatu benda. Oleh karena itu tempat pemijahan harus diberi potongan paralon atau benda lain yang permukaannya halus sebagai tempat menempelnya telur.
Air yang digunakan harus jernih dengan keasaman normal (pH antara 6,8-8,2) dan suhunya antara 24-26oC. Air yang berasal dari PAM atau sumur hendaknya diendapkan terlebih dahulu selama lebih kurang 24 jam. Saat pemijahan Manvis memerlukan tempat yang gelap, oleh karena itu perlu diberi tanaman yang mengapung, misalnya enceg gondok. Bila menggunakan akuarium dindingnya tertutup dengan kertas warna gelap.

Pemijahan
Manvis memijah pada malam hari ketika suasana tenang dan sepi. Telur yang telah dibuahi menempel pada tempat yang telah sediakan. Setelah memijah induknya secara bergantian menjaga telurnya dengan mengibaskan ekornya untuk menambah Oksigen.
Telur tersebut menetas 24-36 jam dari saat dibuahi pada suhu optimal, antara 27-31o C. Burayak sudah tumbuh sirip pada umur 40-60 jam. Pada masa seperti ini makanannya masih berupa egg sach (kuning telur) dan belum memerlukan pakan tambahan

Pembesaran
Pembesaran Manvis dilakukan didalam kolam yang berukuran antara 3-4 m2 dengan kedalaman air 30 cm. Kepadatan ikan antara 150-200 ekor setiap kolam atau disesuaikan menurut ukurannya, semakin besar semakin jarang. Untuk memberikan suasana teduh dan tenang, kolam diberi peneduh tanaman enceng gondok, anyaman bambu, atau seng. Makanan yang diberikan disesuaikan dengan ukuran tubuh dan umurnya. Pada minggu pertama biasanya masih diberikan rotifera, setelah agak besar diberi kutu air yang disaring, selanjutnya tanpa disaring dan akhirnya dapat diberi cacing sutera. Setelah pencapaian dewasa dapat diberi pakan buatan (pellet) yang diberikan secara bergantian.dengan cacing sutera.

 
Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

Budidaya Ikan Jelawat

April 28, 2008 · Leave a Comment

01/09/03 – Informasi: Teknologi
Budidaya Ikan Jelawat

Ikan Jelawat (Leptobarbus hoeveni) ikan asli Indonesia terdapat dibeberapa sungai di Sumatra dan Kalimantan. Merupakan jenis ikan ekonomis penting sangat digemari masyarakat Indonesia bahkan beberapa negara tetangga. Termasuk komoditas ekspor potensial.

Meskipun pemeliharaan ikan jelawat sudah lama dilakukan namun pasokan benih sepenuhnya masih mengandalkan hasil penangkapan dari perairan umum yang dilakukan pada musim hujan. Jenis ikan ini berbiak di sungai pada permulaan musin hujan, dengan anak benih tersedia secara musiman. Kaena pasar benih hanya mengandalkan hasil penangkapan di perairan umum maka kurang terjamin kontinuitasnya sehingga budidaya ikan ini akan terganggu.

Melihat aspek kebutuhan benih yang masih mengandalkan alam maka penguasaan teknologi pembenihan jeni ikan ini merupakan upaya yang pelu diaktifkan. dan ini merupakan peluang usaha yang dapat menghasilkan keuntungan yang besar.

Pembenihan Ikan Jelawat (Leptobarbus hoeveni)

Metode dan Cara

Pematangan Gonad

  • Induk dipelihara dalam kolam khusus berukuran 500-700 m2 penebaran 0,1-0,25 kg/m2
  • Selama pemeliharaan, induk ikan dibi pakan pelet dengan kandungan protein 25-28%
  • Pakan diberikan sebanyak 3 % dari berat badan dengan frekwensi 2-3 per hari
  • Selain pelet diberikan juga pakan berupa hijauan seperti daun singkong secukupnya
  • Lama pemeliharaan induk lebih kurang 8 bulan
  • Induk yang siap pijah diperoleh dengan cara seleksi

Pemijahan

Pemijahan jelawat dapat dilakukan scara alami dan buatan. Dalam paket teknologi ini dilakukan pemijahan buatan.

  • Induk terseleksi perlu diberok selama satu hari
  • Penyuntikan hormon HCG dan kelenjar hipofisa terhadap induk betina dilakukan 2 kali
  • Penyuntikan I (PI) : 1 dosis kelenjar hipofisa ditambah 200 IU HCG per induk betina
  • Penyuntikan II (PII) : 2 dosis kelenjar hipofisa ditambah 300 IU per induk betina
  • Selang waktu antara PI dan PII, 5-6 jam
  • Ovulasi terjadi antara 10-1 jam dari PI
  • Telur dan sperma dikeluarkan dengan cara diurut
  • Pembuahan telur dilakukan dengan mencampurkan sperma dan telur di baskom plastik
  • Jika telur telah mengembang siap untuk disimpan dalam wadah penetasan

Penetasan

  • Padat tebar 400-500 butir telur per liter
  • Selama penetasan air harus dijaga kialitasnya (O2 4-8 ppm; pH 7,0-8,0; T:25-28 derajat C)
  • Pada suhu air 25-28 derajat C telur akan menetas 18-4 jam setekah pembuahan

Pemeliharaan Larva

  • Larva dipelihara langsung ditempat penetasan telur
  • Cangkang dan telur yang tidak menetas dibersihkan secara penyiponan
  • Hari ke 3 larva diberikan pakan Naupil Artemia (yang baru menetas) secukupnya
  • Pemberian pakan 3 kali sehari (pagi, siang ,sore)
  • Hari ke 7 setelah menetas benih ikan siap untuk didederkan di kolam

Pendederan

  • Persiapan kolam meliputi pengeringan 2-3 hari, perbaikan pematang, pembuatan saluran tengah (kamalir) dan pemupukan dengan pupuk kandung sebanyak 500-700 gr per m2. Kolam diisi air sampai ketinggian 80-100 cm. Pada saluran pemasukan dipasang saringan berupa hapa halus untuk menghindari masuknya ikan liar
  • Benih ditebarkan 3 hari setelah pengisian air kolam dengan padat penebaran 100-150 ekor/m2
  • Benih ikan diberi pakan berupa tepung hancuran pelet dengan dosis 10-20 % per hari yang mengandung lebih kurang 25% protein
  • Lama pemeliharaan 2-3 minggu
  • Benih yang dihasilkan ukuran 2-3 cm dan siap untuk pendederan lanjutan

Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

Budidaya Jambal Siam (Patin)

April 28, 2008 · 1 Comment

[ kembali ]
22/08/03 – Informasi: Teknologi
Budidaya Jambal Siam

Jambal siam (Pangasius sutchi) merupakan ikan introduksi dari Thailand yang memepunyai prospek pasar yang baik untuk pasar domestik maupun untuk ekspor terutama dalam bentuk benih.

Dilihat dari peluang pasar yang baik tersebut, maka perlu diusahakan pengembangannya khususnya dibidang pembenihan. Karena benih ikan Jambal Siam selain sebagai ikan konsumsi juga banyak dimanfaatkan sebagai ikan hias.

Mengingat hal tesebut di atas, maka penguasaan teknologi pembenihan untuk jenis ikan Jambal Siam ini perlu dilakukan. Dengan demikian usaha dibidang ini merupakan peluang yang potensial

METODE DAN CARA

Pematangan Gonad

  • Induk dipelihara dalam kolam khusus dengan kepadatan 0,1-0,25 kg/m2
  • Pakan berupa pelet komersial dengan kandungan protein 25-28%, diberikan sejumlah 3 % dari berat biomas dengan frekwensi 2-3 kali per hari
  • Pemupukan dengan kotoran ayam dengan dosis 50 kg/500 m2 diberikan setiap 1-15 hari
  • Pengamatan induk yang ditandai dengan:
    Betina

    -
    Betuk perut lebih besar dan lembek warna anus kemerahan
    -
    Dikanulasi untuk melihat keseragaman diameter telur
    Jantan
    Bila dipijit pada perut kearah anus keluar cairan putih dan kental

Pemijahan

  • Sebelum dipijahkan induk diberok selama 1 malam
  • Pemijahan dilakukan secara buatan dengan menyuntik induk betina dengan hormon kelenjar hipofisa dan HCG
  • Penyuntikan dalakukan 2 kali:
    Penyuntikan pertama : dengan 1 dosis kelenjar hipofisa donor ikan mas
    Penyuntikan kedua : dengan 2 dosis kelenjar hipofisa + HCG dosis 500 Iu/kg
    Selang penyuntikan antara pertama dan kedua adalah 1 jam, bagian yang disuntik adalah pangkal sirip punggung bagian belakang
  • Ovulasi terjadi 12 jam setelah penyuntikankedua
  • Pembuahan dilakukan dengan pengurutan baik sperma maupun telur

Penetasan Telur

Telur yang sudah dibuahi diteteskan dalam akuarium ukuran 60 x 40 x 40 cm dengan ketinggian air 30 cm, dengan kepadatan 8.000-9.000 butir/akuarium secara merata didasar akuarium.

  • Dengan suhu air 25-29 derajat C telur akan menetas dalam waktu 18-24 jam stelah pembuahan
  • Setelah menetas larva dipindah kedalam akuarium yang diaerasi terus menerus dengan ketinggian air 30 cm

Pemeliharaan Larva

  • Larva dipelihara dengan kepadatan 50-75 ekor/1 selama 10-14 hari
  • Pakan berupa naupli artemiasebanyak 1 sendok teh dengan frekwensi 3-5 kali/hari
  • Panen dengan cara penyedotan dengan selang plastik atau ditangkap dengan scopnet

Pendederan di Kolam

  • Persiapan kolam meliputi:
    - pengeringan 2-3 hari
    - perbaikan pematang
    - pemupukan engan dosis 500-750 gr/m2
    - setelah diisi air selama 3 hari kolam siap digunakan
  • Padat tebar 30-5 ekor/m2 untuk ukuran 0,8-1,1 cm
  • Pakan tambahan brupa pelet remah sebanyak 10% berat biomas per hari dengan frekwensi 3 kali /hari
  • Lama peeliharaan selama 3-4 minggu, kemudian dipanen dengan mengeringkan kolan dan benih ditangkap dengan waring nilon dimana benih sudah mencapai ukuran 5-8 cm

Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

→ 1 CommentCategories: Uncategorized

Teknik Pembenihan Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man)

April 28, 2008 · 1 Comment

Udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomis tinggi baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Permintaan pasarnya pun semakin meningkat, sedangkan penangkapan udang galah di alam semakin sulit sehingga perlu dikembangkan usaha pembudidayaannya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan benih dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang baik, salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan melakukan pembenihan.

BIOLOGI
Udang galah termasuk famili Palamonidae dengan species Macrobrachium rosenbergii. Badan udang terdiri atas 3 bagian : kepala dan dada (Cephalothorax), badan (Abdomen) serta ekor (Uropoda). Cephalothorax dibungkus oleh kulit keras, di bagian depan kepala terdapat tonjolan karapas yang bergerigi disebut rostrum pada bagian atas sebanyak 11-13 buah dan bagian bawah 8-14 buah. Pada udang jantan pasangan kaki jalan kedua tumbuh panjang dan cukup besar dapat mencapai 1,5 kali panjang badan, Sedangkan pada betina relatif kecil.

Udang galah hidup pada dua habitat, pada stadia larva hidup di air payau dan kembali ke air tawar pada stadia juvenil hingga dewasa. Pada stadia larva perubahan metamorfose terjadi sebanyak 11 kali dan berlangsung selama 30-35 hari. Udang galah bersifat omnivora, cenderung aktif pada malam hari.

PEMBENIHAN 
1. Seleksi Induk
Beberapa persyaratan induk :

  • Ukuran induk betina diatas 40 gr dan jantan diatas 50 gr
  • Jumlah telur cukup banyak
  • Badan bersih baik dari kotoran maupun organisme yang bersifat parasit
  • Umur induk antara 8-20 bulan
  • Memilih induk yang sudah matang telur untuk yang kedua kali dan seterusnya
  • Berasal dari udang yang pertumbuhannya cepat

2. Pemeliharaan induk
Induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 4 ekor/m2, diberi pakan berupa pelet dengan kandungan protein 30% sebanyak 5% dari berat tubuh. Pada pemeliharaan induk ini, induk jantan dan betina sebaiknya dipelihara secara terpisah, baik di kolam maupun di bak beton dilengkapi dengan pintu pemasukan dan pengeluaran dengan kedalaman 80-100 cm.

3. Pemijahan
Udang galah memijah sepanjang tahun, biasanya terjadi pada malam hari. Udang galah yang siap pijah dapat dilihat dari gonadnya dengan warna merah orange yang menyepar keseluruh bagian gonad sampai ke Cephalothorax.

Sebelum terjadi pemijahan udang betina terlebih dahulu berganti kulit (premating moult). Pada kondisi ini udang lemah, setelah pulih kembali terjadilah pemijahan. Pemijahan dapat dilakukan di kolam tanah, akuarium, bak beton atau fibreglass dengan padat tebar 4 ekor/m2. Perbandingan induk jantan dan betina 1 : 3. Selama proses pemijahan induk diberi pakan pelet dengan kandungan protein 30% sebanyak 5% per hari dari berat biomass dengan frekuensi pemberian pakan 4 kali sehari, lama pemijahan 21 hari.

4. Penetasan Telur
Setelah dilakukan pemijahan seiama 21 hari, induk diseleksi yang matang telur dengan warna telur abu-abu. Induk tersebut diberi perlakuan dengan larutan Malachite green sebanyak 1,5 mg/liter, dengan cara perendaman selama 25 menit.

Bak penetasan yang digunakan berukuran (1 x1 x0,5)m3dengan media air payau bersalinitas 3-5 ppt, padat penebaran induk 25 ekor per bak. Selama penetasan telur, induk diberi makanan berupa ketela rambat, singkong atau kentang dipotong-potong kecil. Hal ini untuk menghindari dampak negatif kualitas air. Pada suhu 28-30°C telur akan menetas dalam waktu 6 – 12 jam.

5. Pemeliharaan larva
Pemeliharaan larva udang galah dilakukan pada bak bulat atau Conicle tank dari fibreglass. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan tersebut antara lain kualitas air dan pemberian pakan. Ukuran pakan harus disesuaikan dengan bukaan mulut larva. Pada hari ketiga setelah menetas diberi pakan nauplii “Artemia” dengan frekuensi 3 jam sekali kemudian pada hari kesebelas diberi pakan Artemia diselingi pakan buatan sampai menjadi post larva dengan frekuensi pemberian pakan tiga jam sekali.

Pergantian air dilakukan setiap hari sebanyak 25- 50% sebelumnya kotoran dibersihkan dengan cara disipon, salinitas media pemeliharaar larva dipertahankan 10-12 ppt. Setelah menjadi juvenil salinitas media diturunkaa secara bertahap menjadi 0 ppt kemudian juvenil siap dipasarkan atau ditebar ke kolam untuk dibesarkan sampai ukuran konsumsi.

PENYAKIT
Penyakit merupakan salah satu faktor pembatas keberhasilan pembenihan udang galah.. Penyakit yang biasa timbul adalah penyakit bakterial yangberupa Vibro sp. dengan ditandai semacam stress, Fluorisensi pada larva yang mati dan terjadi kematian massal dalam waktu yang singkat.

Untuk mencegah terjadinya serangan bakterial perlu adanya “Chlorinisasi” media dan pengeringan fasilitas selama 7 hari, jika sudah terserang pengobatannya menggunakan Furozolidone dengan dosis 11-13 ppm, dengan cara perendaman selama 3 hari.

 

Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi
JI. Selabintana No. 17 Sukabumi Kotak Pos 67
Telp. (0266) 225211, 225240, Fax. (0266) 221762
http://bbat-sukabumi.tripod.com
Email : bbat@sukabumi.wasantara.net.id


 

→ 1 CommentCategories: Uncategorized

Teknik Pembesaran Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de man)

April 28, 2008 · 2 Comments

18/02/04 – Informasi: Teknologi
Teknik Pembesaran Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de man)

Udang galah (Macrobrachium rosenbergii de man) adalah komoditas perikanan air tawar yang merupakan salah satu kekayaan perairan Indonesia. Selain mempunyai ukuran terbesar dibandingkan dengan udang air tawar lainnya juga mempunyai nilai ekonomis penting karena sangat digemari konsumen baik didalam maupun diluar negeri terutama di Jepang dan beberapa negara Eropa. Oleh karena itu udang galah menjadi salah satu andalan komoditas ekspor.

PEMBESARAN
Sarana dan Fasilitas
Jenis tanah yang cocok untuk pemeliharaan udang galah adalah tanah yang sedikit berlumpur dan tidak porous. Luas kolam yang digunakan dapat bervariasi antara 0,2 – 1,0 Ha, sebaiknya berbentuk empat persegi panjang dengan kedalaman kolam antara 0,5 – 1,0 m. Dasar kolam harus rata dan dibuat kemalir ( caren ) secara diagonal dari saluran pemasukan sampai kesaluran pembuangan, hal ini untuk memudahkan pemanenan. Kualitas air yang masuk ke kolam harus baik dan bebas dari polusi.

Pengelolaan Kolam
Sebelum ditanami udang galah kolam sebaiknya dipersiapkan terlebih dahulu secara baik dengan cara :

  • Kolam dikeringkan terlebih dahulu kemudian dicangkul untuk menggemburkan dan dibiarkan selama 3 – 5 hari.
  • Untuk memberantas hama dan penyakit dasar kolam diberi kapur dengan dosis 50 – 100 gr/m2, kapur dicampur dengan air kemudian disebarkan secara merata keseluruh permukaan dasar kolam dan dibiarkan selama 2 – 3 hari.
  • Kolam diisi air sampai mencapai kedalaman yang sudah ditentukan kemudian diberi pupuk organik berupa kotoran ayam sebanyak 500 grlm2 maksudnya untuk menumbuhkan pakan alami.

Teknik pemeliharaan
Benih udang yang siap dipelihara di kolam adalah benih udang stadia juvenil atau tokolan. Pemeliharaannya dapat dilakukan dengan dua cara :

  • Monokultur
    Pemeliharaan secara monokultur adalah pemeliharaan udang di kolam tanpa dicampur dengan ikan lain. Padat penebaran sebanyak 5 – 10 ekor/m2 bila pemberian pakan tidak intensif dan 20 – 30 ekor/m2 dengan pemberian pakan secara intensif.
  • Polikultur
    Pemeliharaan secara polikultur adalah pemeliharaan udang di kolam disatukan dengan ikan lainnya, adapun yang dapat dibudidayakan dengan udang adalah ikan mola, ikan tawes, ikan nilem, dan ikan big head. Padat penebaran udang galah sebanyak 1 – 5 ekor/m2 sedangkan padat penebaran ikan 5 – 10 ekor/m2 ukuran 5 – 8 cm.

Selama pemeliharaan dapat dilakukan pemupukan susulan setiap 2 – 3 minggu berupa urea 3 – 5 kg dan TSP 5 – 10 kg /Ha kolam.

Pemberian Pakan
Selain makanan alami selama pemeliharaan udang galah perlu diberikan pakan tambahan berupa pelet udang dengan kadar protein 25 – 30% karena makanan alami yang tersedia tergantung pada tingkat kesuburan perairan kolam.

Pada pemeliharaan secara monokultur jumlah pakan tambahan yang diberikan mulai 20% menurun sampai 5% dari berat badan total populasi, dengan frekuensi pemberian 4 – 5 kali sehari, sedangkan pada pemeliharaan secara polikultur jumlah pakan tambahan yang diberikan mulai 6% menurun sampai 3% dari berat badan total populasi dengan frekuensi pemberian 4 – 5 kali sehari.

Pemanenan
Pemanenan udang galah dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

  • Panen Total
    Panen Total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam secara total sehingga produksi total dapat segera diketahui, kerugian sistem ini adalah udang yang masih kecil ikut dipanen serta membuang air yang telah kaya dengan organisme dan mineral.
  • Panen Selektif
    Panen selektif diiakukan dengan menggunakan jaring tanpa harus mengeringkan kolam, yang tertangkap hanya udang akuran tertentu saja, pemanenan selanjutnya tergantung kepada tingkat pertumbuhan udang. Kerugian sistem ini adalah banyak membutuhkan tenaga dan bila ada ikan predator tidak dapat dibersihkan dari kolam.

Predator dan Penyakit

  • Predator
    Predator pada pemeliharaan udang galah di kolam adalah beberapa jenis ikan seperti catfish lele lokal) dan Snakehead, burung dan ular. Kepiting merupakan pengganggu juga kerena hewan tersebut melubangi pematang kolam. Untuk mencegah masuknya hewan predator, pada saluran pemasukan air dipasang saringan dan disekeliling pematang dipasang net setinggi 60 cm.
  • Penyakit
    Penyakit yang banyak menyerang udang galah adalah ” Black spot ” yaitu penyakit yang diakibatkan oleh bakteri dan kemudian diikuti oleh timbulnya jamur, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian dan menurunnya mutu udang. Untuk pencegahan penyakit yang diakibatkan oleh bakteri ini digunakan obat antibakterial yang diberikan secara oral melalui pakan.

Kualitas Air
Timbulnya penyakit pada udang biasanya disebabkan oleh kualitas air pada kolam kurang baik. Hal ini biasanya diakibatkan oleh padat penebaran yang terlalu baryak, rendahnya kandungan oksigen, pengaruh suhu serta tingginya derajat keasaman (pH) sehingga dapat menimbulkan banyak kematian.

Air yang dipakai dalam pembesaran udang galah di kolam sebaiknya bebas dari polusi dengan kandungan oksigen lebih dari 7 mg/l, suhu optimum 27 – 30 °C, derajat keasaman (pH) 7,0 – 8,5 dan kesadahan total antara 40 – 150 mg/l.

Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi
JI. Selabintana No. 17 Sukabumi Kotak Pos 67
Telp. (0266) 225211, 225240, Fax. (0266) 221702
Email : bbat@sukabumi.wasantara.net.id

 

→ 2 CommentsCategories: Uncategorized

Pembesaran Ikan Lele ( Clarias sp. )

April 28, 2008 · 4 Comments

26/02/08 – Informasi: Teknologi
Pembesaran Ikan Lele ( Clarias sp. )

Pembesaran Ikan Lele (Clarias sp.)

PERSIAPAN LAHAN

PENGERINGAN KOLAM

  • Tujuan pengeringan untuk meningkatkan produksi, memperbaiki pematang, juga merupakan salah satu bentuk kontrol alami terhadap pengganggu ataupun predator, dan menyebabkan terjadinya mineralisasi dari kandungan organik dan mengoksidasi asam organik.
  • Lamanya pengeringan ini tergantung pada keadaan cuaca, lamanya pengeringan atau penjemuran tergantung pada cuaca. Jika cuaca baik, pengeringan dasar kolam cukup selama 2-3 hari.
  • Setelah dikeringkan dilakukan pembuangan lumpur yang menumpuk di dasar kolam sehingga ketebalan lumpur dari 20-30 cm menjadi 10-15 cm. Lumpur yang terbuang digunakan untuk menutupi kebocoran yang ada pada pematang.

PEMUPUKAN DAN PENGAPURAN

  • Setelah dikeringkan, kolam dipupuk. Pupuk yang digunakan biasanya berupa pupuk organik, misalnya kotoran ayam.

  • Kotoran ayam ini disebarkan secara merata di seluruh dasar kolam. Untuk kolam berukuran sekitar 20 m2, biasanya digunakan 5 kg kotoran ayam.

  • Dosis kapur untuk kolam baru dan kolam yang telah dipakai dibedakan. Untuk kolam baru biasanya 20-150 kg per 100 m2, sedangkan untuk kolam yang sudah pernah dipakai 10-15 kg per 100 m2.

SUMBER DAN KUALITAS AIR

  • Sumber air untuk kegiatan pembesaran lele dapat berupa saluran irigasi yang airnya dapat langsung disadap dengan menggunakan pipa paralon ataupun bambu.

  • Air yang baik digunakan untuk pembesaran lele dumbo nilai pH-nya berkisar antara 6,5-8. Selain itu perlu diperhatikan bahwa kekeruhan juga dapat mempengaruhi kegiatan pembesaran ikan lele.

  • Kekeruhan ini sebaiknya tidak lebih dari 10 cm, sebab jika lebih dari itu sangat besar kemungkinan terjadinya kekurangan oksigen dan ikan sulit bernafas karena elemen insangnya tertutup partikel-partikel lumpur.

PEMASUKAN AIR

  • Pemasukan air biasanya dilakukan secara perlahan-lahan hingga ketinggian air mencapai 20 cm.

  • Setelah itu kolam didiamkan selama 2-3 hari agar pupuk mengalami penguraian.

  • Setelah 3 hari ketinggian dinaikkan hingga mencapai 70 cm. Debit air yang masuk ke kolam biasanya sekitar 1 liter/detik.

PENGELOLAAN KOLAM

1) Penebaran Benih

  • Dalam proses penebaran aklimatisasi perlu dilakukan dalam rangka penyesuaian ikan dari suatu lingkungan (keadaan) ke lingkungan yang baru atau lingkungan yang berbeda.

  • Penebaran benih ini biasanya dilakukan pada pagi hari sekuar pukul 07.00-08.00, ini karena pada pagi hari suhu belum terlalu tinggi.

  • Padat penebaran benih tergantung pada ukuran kolam, ukuran ikan yang ditanam, serta lama masa pemeliharaan. Pada ukuran lebih besar dari 5 cm, lele dapat ditebar dengan kepadatan 5-8 ekor/m2 dan untuk benih berukuran 1-3 cm dapat ditebar dengan kepadatan 10 ekor/m2. Kepadatan ini dapat ditingkatkan apabila dikelola secara lebih intensif.

2) Pemberian Makanan

  • Pada kegiatan pembesaran secara tradisional makanan alami merupakan makanan utama, sedangkan pada kegiatan yang lebih intensif diberikan makanan tambahan.
  • Makanan tambahan ini dapat berupa sisa-sisa dapur, dedak ataupun bangkai. Selain itu juga diberikan cacahan daging bekicot dan pelet yang berkadar protein sekitar 20 -25 %.
  • Makanan tanbahan diberikan dengan disebar secara merata. Makanan diberikan sekitar 2 kali sehari. Jumlah makanan yang diberikan setiap hari sekitar 2-3% dari bobot tubuhnya.

3) Pergantian Air
Pergantian air dapat dilakukan sekitar 1-2 minggu sebanyak 10-30 %.

4) Hama dan Penyakit
Penyakit merupakan salah satu penyebab terjadinya kematian.

5) Pemanenan

  • Pemanenan biasanya dapat dilakukan setelah bobotnya mencapai sekitar 300 gram per ekor.
  • Biasanya dapat dicapai setelah masa pemeliharaan sekitar 8-12 bulan.
  • Pemanenan total dapat dilakukan pada pagi hari.
  • Pada mulanya air kolam diturunkan ketinggiannya hingga mencapai sekitar 10-15 cm.
  • Ikan dapat dipanen dengan menggunakan jaring atau serok, selanjutnya ditempatkan ke dalam wadah, misalnya ember, yang berisi air jernih.
 
Sumber : Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, Ditjen KP3K

→ 4 CommentsCategories: Uncategorized

Budidaya Ikan Patin dalam Keramba

April 28, 2008 · 4 Comments

Beternak Ikan Patin dalam Keramba

 

UJANG berjalan di atas keramba-keramba bambu yang mengapung di pinggiran sungai. Dengan cekatan, lelaki berbadan kekar berusia 45 tahun itu membuka pintu kecil di atas keramba, lalu menaburkan butiran-butiran pelet. Ribuan ikan patin dalam keramba langsung berebutan menyambar makanan itu. Air berkecipak, sebagian muncrat ke atas.

Ujang tambah bersemangat. Dia terus menaburkan pelet sambil memandangi ikan-ikan yang berebut makanan dengan wajah berseri-seri. Terik matahari yang menerpa punggungnya yang terbuka seakan tak dirasakan. Dia asyik dengan kegiatan rutinnya itu. “Saya selalu menunggu-nunggu saat memberi makan ikan patin. Hati gembira melihat ikan-ikan ini tumbuh sehat dan lincah,” kata Ujang sambil tersenyum, Selasa (1/2) siang.

Ujang memiliki 12 keramba apung yang ditambatkan di pinggiran Sungai Ogan di Desa Tanjung Raja, Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel). Sebanyak 12 keramba, yang rata-rata berukuran sekitar dua meter kali tiga meter, itu digunakan untuk memelihara 32.000 ikan patin. Saat ini ribuan ikan tersebut sudah berusia sekitar tiga bulan. Sekitar lima bulan lagi ikan-ikan milik Ujang sudah bisa dipanen.

Menurut Abdul Roni (61), peternak ikan patin lainnya, budidaya ikan patin dalam keramba di pinggiran Sungai Ogan di daerah Tanjung Raja dimulai sejak awal 1990-an. Mula-mula beberapa warga berusaha mencari pendapatan tambahan dengan memelihara ikan patin dalam keramba. Ternyata usaha sampingan itu cukup menguntungkan sehingga warga lain tertarik dan ikut membuat keramba bambu.

Saat ini setidaknya terdapat sekitar 200 keramba apung yang dikelola oleh 50 warga Tanjung Raja. Dilihat dari atas Jembatan Tanjung Raja, sekitar 50 kilometer arah selatan Kota Palembang, keramba-keramba itu tampak berjajar di pinggiran sungai.

Budidaya ikan patin dimulai dengan membeli benih berusia sebulan, yang tubuhnya sebesar batang korek api. Sebagian besar benih didatangkan dari Bogor, Jawa Barat, dengan harga sekitar Rp 250 per ekor. Setelah delapan bulan dipelihara ikan rata-rata berbobot satu kilogram (kg) per ekor dan siap dipanen.

Saat musim panen, ikan patin dijual Rp 7.000 per kg kepada pedagang perantara. Ikan biasanya dibawa ke pasar-pasar tradisional di Sumsel, Jambi, atau Lampung. Di tangan konsumen, harganya menjadi Rp 8.000-Rp 10.000 per kg. Sebagian lagi disetor ke berbagai rumah makan di daerah Sumsel.

Sejumlah rumah makan sangat mengandalkan ikan patin keramba produksi Tanjung Raja. Bila dibandingkan yang dibesarkan dalam kolam, ikan patin keramba lebih gemuk dan warnanya lebih jernih. “Dengan produksi ikan patin yang berkualitas, kami tidak pernah kesulitan soal pemasaran. Bahkan kami sering kehabisan persediaan,” kata Ajang (29), yang memiliki tiga keramba.

DI rumah makan, ikan patin banyak disajikan dengan nama pindang patin. Menu ini berisi sepotong ikan patin dalam kuah sayur berbumbu manis asam. Sayur terasa segar dan sedap karena dimasak dengan daun kemangi, dan ditambah dengan potongan buah nanas. Sebagian besar masyarakat di sekitar Palembang cukup menggemari menu khas ini. Demikian pula para pendatang yang berkunjung ke kota itu.

“Rata-rata kami bisa menjual 50 porsi ikan patin setiap hari. Kalau pas ramai, porsi yang terjual bisa lebih banyak lagi,” kata Dina (16), pelayan Rumah Makan Pondok Pindang Rizki, di depan Kampus Universitas Sriwijaya di Indralaya, Ogan Ilir.

Hanya saja, pengembangan budidaya ikan patin di Tanjung Raja masih terkendala oleh harga pelet yang terus melambung. Pada tahun 1994 harga pelet masih Rp 15.000 per karung berisi 30 kg. Sejak tahun 2004 harganya melonjak menjadi Rp 140.000 per karung. Para peternak juga harus menghadapi banjir hampir setiap tahun. Saat Sungai Ogan meluap berbagai jenis limbah ikut masuk ke dalam keramba sehingga banyak ikan yang mati. Para peternak pun merugi hingga jutaan rupiah. (ilham khoiri)

 

Rabu, 02 Februari 2005
Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS

 

→ 4 CommentsCategories: Uncategorized

Budidaya Belut (Eel Culture)

April 4, 2008 · Leave a Comment

Eel culture can be done with a minimum investment, using locally available and cheap resources. The system of raising eels cal also be made environment-friendly.

Eels are long snake-like fishes with a smooth slimy scaleless skin. There are thousands of this kind in the sea and hundreds in freshwater. Monopterus albus (ricefield eel), which became instinct for unknown reasons was introduced by the International Institute of Rural Reconstruction (IIRR) in the late 80s. Many farmers are raising this species for food.

The genus Monopterus has six species and are found only in Asia. The ricefield eels is worth raising in cemented tanks. The advantages of raising this species are:

  • it can be raised in small cemented tanks;
  • it can be breed in captivity without using any chemical stimuli;
  • it is an air-breathing species and can survive in oxygen depleted conditions, therefore is very useful for areas where there is scarcity of water; and
  • its natural food are fish, snails, aquatic insects, invertebrates, worms, etc.

Tanks Preparation and Stocking

1. Make sure that there is enough available natural or clean water. The source of water could be ground water or spring water. Water from domestic faucets can also be used provided the chlorine content is not very high or can be lowered by some mechanisms (spraying or holding the water in storage tanks.)

2. Construct twin tanks 1M x 2M x 1M in size with a total surface area of 4 sqm. The tank should be leak-proof with an outlet at the bottom.

3. Layer half of the tank lengthwise

  • the first (bottom) should be mud (preferably from ricefields or ponds) and is 10 cm thick
  • the second is composed of straw which should be previously cured for about a week and 10cm thick
  • the third is comprised of finely-chopped banana trunks which are cut a week prior to introduction and must be 10cm thick.
  • the fourth constitutes cow or carabao manure, also 10 cm thick
  • the fifth and top layer is mud placed in slope with one end higher than the other
  • This layering is good only for Monopterus eels. Aguillan, the local variety found in the rivers in Cagayan (Aparri) and Mindanao (Cotabato), can be raised using the same strategy, but the tanks should not have mud.

4. Introduce water into the tank, 15 cm above the top layer.

5. Allow the materials to decompose for about a week. This is apparent with the production of a foam.

6. Drain the water out and introduce fresh water again. Repeat this process every week for 20-25 days until no more froth appears.

7. Introduce tilapia or carp fingerlings to check if the tank is ready for culturing eels.

8. Allow the fingerlings to stay inside the tank for three days, if they do not die, that means the tank is ready for the introduction of eels. The tank, which is ready, will have a similar quality to a ricefield.

9. Before the introduction of eels, plant aquatic plants such as water hyacinth or kangkong on the top soil. The plants will provide shelter for the eels from direct sunlight and also act as a hiding place.

10. For the tank size mentioned, introduce 195 to 200 eels with a ratio of 140 females and 60 males.

Feeding Management

1. Maintain proper feeding levels throughout the culture period.

  • Remember: Monopterus albus is a progynus (female first) species. The ones that are below 40 cm are females and those above 60 cm are males. The in-between length group turns cannibal
  • Segregate the fingerlings which cling to the water hycinth roots. Take out the weed and tap it over a net. The fingerlings will fall down Repeat for a few days until there are no more fingerlings left in the tank. Maintain in a separate tank or aquarium until they are pencil size. Then, transfer to a new tanks.

2. Use only mud from the pond in case of a nursery pond until the hatchings develop into fingerlings.

3. Add flour or vitamin pre-mix to the eel’s natural food to make the consistency of stiff paste (so that the food does not dissolve in water and spoil the water quality).

4. Give food individually or in combination of two or more. A natural food, such as fingerlings of other cheaper fish, is the most preferable food.

5. At fingerlings stage, feed eels with a lot of aquatic insect which can be produced naturally in stagnant water bodies.

6. Collect garden snails from the ricefields to reduce snail population eating rice and feed to the eels

7. Consider the following factors in feeding the eels:

  • size (length) of the fish;
  • total weight of the biomass (all fishes in total); and
  • climatic conditions, such as atmospheric temperature

An ideal temperature for eel to feed properly would be between 20-35°C.

Eel’s Natural Food

  • fish fingerlings
  • earthworms
  • snails
  • aquatic insects
  • silkworm pupae
  • slaughter house wastes (cow, carabao, chicken liver, intestine, chicken skin, etc.)

Tip: Silkworm pupae, if available locally, is an excellent food for the eels. Live earthworms can be given directly to the fish. They can also be ground in the form of paste along with other fish and/or snails.

Tips on Feeding

  • Always feed the eels at a fixed feeding point and time
  • Eels can be fed in trays made out of local materials. The feeding trays should be removed a couple of hours after each feeding. The trays should be designed in such a way that there is minimum or no spilling of the food in the water. Leftover food will deteriorate the water quality. Siphon leftovers using a PVC pipe.
  • To begin with, the feed should be placed at the bottom of the tank and then gradually moved to the surface within a span of few days.
  • If the eels feed on the surface, observe them everyday from any diseases or strange behavior.
  • If dried feeds are used, grind them into powder or paste using a domestic type grinder. It facilitates the storage of food for longer periods.

Harvesting and Transporting

  1. Harvest according to the needs of the market and the growth of eels.
  2. Harvest partially or completely. If you have more than one tank, harvest completely so that the next lot is ready in the new tank before harvesting.
  3. Harvest during feeding time when a net can be placed under the feed.
  4. Make sure not to injure the eels as it may, besides causing death, lower the price in the market.
  5. Starve the eels in holding tanks before transporting live to the market.
  6. Clean the tanks properly after harvesting and sun-dry for a few days before stocking new eels.

Economic Benefits

There being no established market for Monopterus eels, this economic feasibility is based on existing market of local variety of eels, the Anguilla species (locally knows as igat, palos or casili).

For an initial fixed investment of P6,300 and a production of P5,590, a farmer can obtain a net return of P14,410 per eight months or P1,801.25 per month.

Ecological Implications

Some farmers who have introduced Monopterus eels in their rice fields have noticed a marked reduction in the snail population as these are natural feed for the eels. However, some farmers have come across the problem of dike boring by eels, thus making it difficult for them to retain water in their rice fields. The ecological implications of these species is the wild are being studied. It is therefore recommended to raise eels only in cemented tanks and not let them get into natural systems.

Rice fields eels, once introduced into the rice fields, can serve as predator against golden snails which have become a pest in some Asian countries, particularly the Philippines and Vietnam.

Earthworm can be cultured in backyards (Vermiculture) and can be used as supplementary feed for the eels. The compost produced by the worms can be used as fertilizer for vegetable gardens. The eels in rice fields also reduce the amount of insect pests thus increasing the rice production.

For more information contact:

Dept.of Agriculture
D.A. Compound, Elliptical Rd.,
Diliman,Quezon City
Tel. Nos. (632) 929-6065 to 67 / 920-3991 / 928-1134
Web: www.da.gov.ph

source: www.tlrc.gov.ph, photo from treehouse.com.pg

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized