Iswadi

Pembesaran Ikan Lele ( Clarias sp. )

April 28, 2008 · 4 Comments

26/02/08 – Informasi: Teknologi
Pembesaran Ikan Lele ( Clarias sp. )

Pembesaran Ikan Lele (Clarias sp.)

PERSIAPAN LAHAN

PENGERINGAN KOLAM

  • Tujuan pengeringan untuk meningkatkan produksi, memperbaiki pematang, juga merupakan salah satu bentuk kontrol alami terhadap pengganggu ataupun predator, dan menyebabkan terjadinya mineralisasi dari kandungan organik dan mengoksidasi asam organik.
  • Lamanya pengeringan ini tergantung pada keadaan cuaca, lamanya pengeringan atau penjemuran tergantung pada cuaca. Jika cuaca baik, pengeringan dasar kolam cukup selama 2-3 hari.
  • Setelah dikeringkan dilakukan pembuangan lumpur yang menumpuk di dasar kolam sehingga ketebalan lumpur dari 20-30 cm menjadi 10-15 cm. Lumpur yang terbuang digunakan untuk menutupi kebocoran yang ada pada pematang.

PEMUPUKAN DAN PENGAPURAN

  • Setelah dikeringkan, kolam dipupuk. Pupuk yang digunakan biasanya berupa pupuk organik, misalnya kotoran ayam.

  • Kotoran ayam ini disebarkan secara merata di seluruh dasar kolam. Untuk kolam berukuran sekitar 20 m2, biasanya digunakan 5 kg kotoran ayam.

  • Dosis kapur untuk kolam baru dan kolam yang telah dipakai dibedakan. Untuk kolam baru biasanya 20-150 kg per 100 m2, sedangkan untuk kolam yang sudah pernah dipakai 10-15 kg per 100 m2.

SUMBER DAN KUALITAS AIR

  • Sumber air untuk kegiatan pembesaran lele dapat berupa saluran irigasi yang airnya dapat langsung disadap dengan menggunakan pipa paralon ataupun bambu.

  • Air yang baik digunakan untuk pembesaran lele dumbo nilai pH-nya berkisar antara 6,5-8. Selain itu perlu diperhatikan bahwa kekeruhan juga dapat mempengaruhi kegiatan pembesaran ikan lele.

  • Kekeruhan ini sebaiknya tidak lebih dari 10 cm, sebab jika lebih dari itu sangat besar kemungkinan terjadinya kekurangan oksigen dan ikan sulit bernafas karena elemen insangnya tertutup partikel-partikel lumpur.

PEMASUKAN AIR

  • Pemasukan air biasanya dilakukan secara perlahan-lahan hingga ketinggian air mencapai 20 cm.

  • Setelah itu kolam didiamkan selama 2-3 hari agar pupuk mengalami penguraian.

  • Setelah 3 hari ketinggian dinaikkan hingga mencapai 70 cm. Debit air yang masuk ke kolam biasanya sekitar 1 liter/detik.

PENGELOLAAN KOLAM

1) Penebaran Benih

  • Dalam proses penebaran aklimatisasi perlu dilakukan dalam rangka penyesuaian ikan dari suatu lingkungan (keadaan) ke lingkungan yang baru atau lingkungan yang berbeda.

  • Penebaran benih ini biasanya dilakukan pada pagi hari sekuar pukul 07.00-08.00, ini karena pada pagi hari suhu belum terlalu tinggi.

  • Padat penebaran benih tergantung pada ukuran kolam, ukuran ikan yang ditanam, serta lama masa pemeliharaan. Pada ukuran lebih besar dari 5 cm, lele dapat ditebar dengan kepadatan 5-8 ekor/m2 dan untuk benih berukuran 1-3 cm dapat ditebar dengan kepadatan 10 ekor/m2. Kepadatan ini dapat ditingkatkan apabila dikelola secara lebih intensif.

2) Pemberian Makanan

  • Pada kegiatan pembesaran secara tradisional makanan alami merupakan makanan utama, sedangkan pada kegiatan yang lebih intensif diberikan makanan tambahan.
  • Makanan tambahan ini dapat berupa sisa-sisa dapur, dedak ataupun bangkai. Selain itu juga diberikan cacahan daging bekicot dan pelet yang berkadar protein sekitar 20 -25 %.
  • Makanan tanbahan diberikan dengan disebar secara merata. Makanan diberikan sekitar 2 kali sehari. Jumlah makanan yang diberikan setiap hari sekitar 2-3% dari bobot tubuhnya.

3) Pergantian Air
Pergantian air dapat dilakukan sekitar 1-2 minggu sebanyak 10-30 %.

4) Hama dan Penyakit
Penyakit merupakan salah satu penyebab terjadinya kematian.

5) Pemanenan

  • Pemanenan biasanya dapat dilakukan setelah bobotnya mencapai sekitar 300 gram per ekor.
  • Biasanya dapat dicapai setelah masa pemeliharaan sekitar 8-12 bulan.
  • Pemanenan total dapat dilakukan pada pagi hari.
  • Pada mulanya air kolam diturunkan ketinggiannya hingga mencapai sekitar 10-15 cm.
  • Ikan dapat dipanen dengan menggunakan jaring atau serok, selanjutnya ditempatkan ke dalam wadah, misalnya ember, yang berisi air jernih.
 
Sumber : Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, Ditjen KP3K

Categories: Uncategorized

4 responses so far ↓

Leave a Comment