Iswadi

Pembenihan Nila Merah (Oreochromis sp) dalam Bak Semen

April 28, 2008 · 2 Comments

[ kembali ]
12/10/04 – Informasi: Teknologi
Pembenihan Nila Merah (Oreochromis sp) dalam Bak Semen

Pembenihan Nila Merah dalam Bak Semen

Pematangan Gonad Induk

Induk nila merah dimatangkan gonadnya dalam bak semen berukuran (10 x 5 x 1 m3 dengan ketinggian air 0,8 m dan kepadatan 2 – 3 ekor/m3. Bak dilengkapi dengan aerasi dari blower sebanyak 10 titik per bak dengan kadar oksigen minimal mencapai 5 ppm. Bak diberi atap dengan tujuan untuk mengurangi sinar matahari yang masuk sehingga dapat menekan laju tumbuh plankton.

Pergantian air dilakukan sebanyak 20% tiap dua hari. Pemeliharaan induk untuk pematangan gonad dilakukan secara terpisah antara jantan dan betina. Pakan yang diberikan berupapellet komersial untuk induk dengan kadar protein minimal 30% sebanyak 3% dari total biomassa dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari yaitu pagi, siang, dan sore.

Seleksi Induk

Pengambilan induk yang matang gonad dilakukan setelah pemeliharaan selam 15 hari dengan cara menyeleksi. Induk betina diseleksi berdasarkan bentuk perutnya, yakni bagian perut kelihatan buncit, lembut bila diraba dan beratnya minimal 400 g/ekor. Sedangkan induk jantan diseleksi berdasarkan ukuran berat dan kondisi induk.

Pemijahan

Pemijahan ikan nila dilakukan secara alami dengan mencampurkan induk jantan dan betina hasil seleksi ke dalam bak semen (ukuran 10 x 5 x 1 m3), bak yang digunakan adalah bak yang tidak diberi atap dengan tujuan untuk mempercepat pertumbuhan plankton sebagai sumber pakan alami bagi larva setelah menetas. Perbandingan induk jantan dan betina dalam pemijahan adalah 1 : 3. Bak pemijahan juga dilengkapi dengan aerasi sebanyak 10 titik. Lama pemijahan 15 hari dan panen larva dilakukan setelah hari ke 15. Selama pemijahan induk diberi pakan pellet induk sebanyak 1% dari biomassa dengan frekuensi pemberian 3 kali sehari.

Panen Larva

Pemanenan larva dilakukan dengan cara mengurangi air bak hingga ketinggian 20 cm. Induk ditangkap terlebih dahulu dengan jaring induk (mesh size >0,5 inchi) dan dipisahkan antara jantan dan betina untuk dimatangkan gonadnya kembali. Larva nila merah yang baru menetas mempunyai panjang 2 mm dengan berat rata-rata 0,02 mg/ekor. Penangkapan larva dilakukan dengan jaring larva (mesh size < 1 mm) sampai habis dan dihitung untuk mencari jumlah total larva yang dihasilkan dan selanjutnya dimasukkan dalam bak pendederan.

Pendederan

Pendederan larva dilakukan dalam bak semen dengan ukuran (6 x 2 x 1 m3) dengan ketinggian air 0,8 cm. Lama pemeliharaan 30 hari dan diberikan pakan pellet komersial dengan kadar protein minimal 28% dengan cara menambah ukuran pellet setiap tahapan ukuran larva. Pakan tepung untuk pemeliharaan larva pada minggu pertama, pakan crumble 1 (butiran) untuk minggu ke 2 dan crumble 3 untuk minggu ke 3 dan 4. Jadi pemberian pakan dilakukan dengan variasi 100% dari total biomassa pada minggu pertama, 75% pada minggu ke 2 dan 30% pada minggu ke 3 dan 4, frekuensi pemberian pakan sebanyak 4 kali sehari.

Panen Benih

Sebelum dilakukan pemanenan, benih tidak diberikann pakan selama satu hari. Pemanenan dilakukan dengan cara menjaring benih dalam bak dan selanjutnya panen total dengan cara mengeringkan bak.

Benih hasil panen diseleksi berdasarkan ukuran pasaran yaitu 1 – 3 cm, 3 – 5 cm dan 5-8 cm. Untuk mengurangi stress seleksi benih dilakukan menggunakan alat bantu berupa ember atau keranjang berlubang (grader). Lubang dengan diamtere 4 mm untuk benih 3 – 5 cm dan 8 mm untuk ukuran 5 – 8 cm.

Hasil seleksi ditampung dalam wadah terpisah berdasarkan ukuran dan siap untuk didistribusikan.

Biaya Tetap
Biaya Konstruksi
1 buah bak pemijahan volume 50 ton
Rp. 12.000.000
3 buah bak pematangan gonad 25 ton
Rp. 21.000.000
6 buah bak pendederan volume 12 ton
Rp. 30.000.000
Induk 100 kg
Rp. 1.500.000
Total biaya konstruksi
Rp. 64.500.000
Biaya penyusutan 10%
Rp. 6.450.000
Total
Rp. 70.950.000
Peralatan
1 unit blower 90 watt
Rp. 300.000
1 unit instalasi udara
Rp. 270.000
1 unit jaring induk
Rp. 100.000
1 unit jaring larva
Rp. 75.000
1 unit peralatan lapangan
Rp. 597.000
Total biaya peralatan
Rp. 1. 342.000
Biaya penyusutan 10%
Rp. 134.200
Total
Rp. 1.476.200
Biaya Operasional 1 siklus
Pakan induk 40 kg
Rp. 140.000
Pakan benih 20 kg
Rp. 70.000
Tenga kerja 3 orang
Rp. 600.000
Biaya listrik 1 bulan
Rp. 100.000
Peralatan pengemas benih
Rp. 200.000
Total
Rp. 1.110.000

Pendapatan

1 siklus (1 bulan)

Asumsi :

  1.  
    1. SR 80%
    2. 10 % ukr < 3- 5 cm ; 70% ukr 3 – 5 cm; 20% ukr 5 – 8 cm

Hasil :

  1.  
    1. 80% x 30.000 ekor = 24.000 ekor
    2. 70% x 24.000 ekor = 16.800 ekor
    3. 20% x 24.000 ekor = 4.800 ekor

Nilai jual :

  1.  
    1. 16.800 ekor @ Rp. 60,- = Rp. 1.008.000,-
    2. 4.800 ekor @Rp. 100,- = Rp. 480.000,-

Total nilai jual per tahun (12 siklus) : Rp. 1.488.000 x 12 = Rp. 17.856.000,-

Informasi lebih lanjut hubungi :

Balai Budidaya Air Tawar Jambi

Desa Sungai Gelam Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi 36361 Indonesia PO. BOX 78 Jambi 36000 telp. (0741) 54472 ; email : bbatj@indo.net.id

 

 



Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Categories: Uncategorized

Pembenihan Ikan Baung

April 28, 2008 · 1 Comment

19/10/04 – Informasi: Teknologi
Pembenihan Ikan Baung

Pembenihan Ikan Baung (Mystus Nemurus)

Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan induk dilakukan di kolam induk yang berukuran 600 m2 dengan kedalaman air rata-rata 1 m dengan padat tebar 15 ekor /m2. Selama pemeliharaan induk diberikan pakan berprotein minimal 28% sebanyak 2% dari total Biomass/hari dengan frekuensi pemberian pakan dua kali sehari yaitu pada pagi hari dan sore hari.

Seleksi Induk

Pengecekan tingkat kematangan gonad induk betina yang siap pijah dapat dicirikan perut yang membesar dan lembek bentuk badan yang agak melebar dan pendek. Pada sekitar lubang genital agak kemerahan dan telur berwarna kecoklatan. Ukuran diameter telur ikan baung yang siap dipijahkan dan mampu berkembang dengan baik berkisar 1,5 sampai 1,8 mm dengan rata-rata 1,6 mm. Telur yang bagus dapat dilihat intinya sudah menepi dan tidak terjadi penggumpalan jika diberi larutan sera.

Sedangkan untuk induk jantan yang siap dicirikan dengan ujung genital papilla (penis) berwarna merah yang panjangnya sampai ke pangkal sirip anal. Cairan sperma ikan baung ini berwarna bening.

Pemijahan dilakukan secara buatan dengan penyuntikan hormon. Jenis hormon yang digunakan adalah ovaprim denga dosis 0,5 cc/kg induk betina dan 0,3 cc/kg untuk induk jantan.

Induk ditampung dalam wadah fiber/waskom/aquarium yang berfungsi sebagai tempat inkubasi induk. Induk ditimbang beratnya untuk menentukan jumlah hormon yang akan digunakan. Penyuntikan induk betina dilakukan 2 kali dengan interval waktu penyuntikan 6 jam, untuk penyuntikan I digunakan 1/3 dari dosis dan 2/3 sisanya untuk penyuntikan ke II. Sedangkan untuk induk jantan dilakukan sekali penyuntikan yaitu waktu penyuntikan kedua pada induk betina. Penyuntikan dilaksanakan secara intra muskular di bagian kiri/kanan belakang sirip punggung. Posisi jarum suntik terhadap tubuh induk membentuk sudut 30o – 40o sejajar dengan panjang tubuh.

Waktu ovulasi berkisar antara 6 – 8 jam setelah penyuntikan ke II (kisaran suhu 29o – 31o ditandai dengan keluarnya telur bila dilakukan pengurutan pada bagian perut.

Pembuahan

Pengambilan sperma dilakukan dengan pengurutan ke arah lubang genital dan dengan spuit yang sudah diisi dengan larutan NaCl 0,9% dengan perbandingan 4 cc NaCl dengan 1 cc sperma. Pembuahan buatan dilakukan dengan cara mencampurkan telur dengan sperma kemudian diaduk dengan bulu ayam searah jarum jam selama kurang lebih 2 – 3 menit secara perlahan sampai tercampur rata, lalu diberi air bersih. Selanjutnya telur ditetaskan di dalam aquarium.

Penetasan Telur

Penetasan dilakukan pada substrat buatan yang diletakkan menggantung di aquarium. Hal ini dikarenakan telur ikan baung memiliki daya rekat yang tinggi sehingga telur tersebut menempel kuat pada substrat. Setelah telur menetas larva akan jatuh ke dasar aquarium dan larva baung bersifat bergerombol dan lebih suka berada di dasar aquarium. Sedangkan telur yang tak menetas tetap menempel pada substrat.

Pemeliharaan Larva

Panen larva dilakukan setelah larva berumur 6 – 8 jam setelah menetas dengan cara disifon dengan selang plastik dan ditampung dalam waskom atau dengan menggunakan serok halus dan dihitung kepadatannya. Selanjutnya baru dilakukan penebaran di media pemeliharaan larva. Padat penebaran yang digunakan dalam pemeliharaan larva ikan baung ini 20 ekor/liter.

Larva yang baru menetas berukuran 0,5 cm dengan berat 0,7 mg. Selama pemeliharaan larva, pakan yang diberikan adalah nauplii Artemia sp dan cacing rambut diberikan setelah larva berumur 8 hari. Frekuensi pemberian pakan dilakukan 5 kali per hari yaitu pada pukul 07.00, 11.00, 15.00, 19.00, dan 23.00 WIB. Agar kualitas air tetap baik dilakukan penyifonan kotoran yang mengendap di dasar aquarium. Penyifonan dilakukan 1 x per hari pada pagi hari sebelum pemberian pakan.

Pendederan

Sebelum dilakukan penebaran benih, terlebih dahulu dilakukan persiapan kolam pendederan yang meliputi pengeringan kolam, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar kolam dan pembuatan caren (kemalir). Dalam kegiatan persiapan kolam juga dilakukan pemupukan, pengapuran, pengisian air dan inokulasi moina sp. dengan kepadatan 10 juta individu/500 m2

Pengolahan dasar kolam dilakukan dengan cara pembalikan tanah dasar kolam, diratakan dengan pembuatan kemalir dengan kemiringan 0,5 – 1% ke arah pintu pengeluaran. Setelah pengolahan tanah, dilakukan pemupukan dengan pupuk kandang (kotoran ayam petelur) dengan dosis 60 gr/m2. Penjemuran kolam dilakukan selama 3 hari lalu diisi air secara bertahap sampai ketinggian air 90 cm.

Inokulasi Moina sp dilakukan sehari setelah pengisian air. Kolam didiamkan selama 3 – 4 hari agar ekosistem kolam dapat mencapai keseimbangan dan Moina sp berkembang biak. Sebelum benih ditebar di kolam dilakukan pengukuran kualitas air yang meliputi suhu, oksigen dan pH.

Penebaran banih dilakukan pada hari ke-8 dari awal persiapan kolam (3 hari setelah penebaran Moina sp). Penebaran benih dilakukan pagi atau sore hari untuk menghindari stress. Benih yang ditebar berukuran rata-rata 2,4 cm dengan padat tebar 20 ekor/m2 Pemeliharaan benih dilakukan selama 4 minggu. Setelah penebaran, benih diberi makan berupa pakan komersial (pellet) yang dihancurkan dengan kadar protein 28 – 30% sebanyak 25 – 100% total biomassa/hari. Total pemberian pakan tersebut adalah sebagai berikut :

  • Minggu I : 100%,
  • Minggu II : 80%
  • Minggu III : 70%
  • Minggu IV : 30%

Frekuensi pemberian pakan 3 x sehari pagi, siang dan sore .

Pemanenan

Pemanenan dilakukan dengan menjaring ikan dalam kolam menggunakan jaring, selanjutnya ditampung dalam hapa penampungan dan diberok selama 1 hari. Sebelum dilakukan pendistribusian benih pada pembudidaya ikan, benih terlebih dulu diseleksi sesuai ukuran.

Benih dikemas dalam kantong plastik ukuran 60 x 90 cm. Kepadatan per kantong tergantung pada ukuran benih dan waktu tempuh.

* BBAT Jambi

 



Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Categories: Uncategorized

Pembenihan Kakap Putih

April 28, 2008 · Leave a Comment

[ kembali ]
16/06/04 – Informasi: Teknologi
Pembenihan Kakap Putih

Pembenihan Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch) dengan Manipulasi Rangsang Hormonal

Keberhasilan dalam penerapan teknologi pembenihan kakap putih di Loka Budidaya Laut Batam diharapkan mampu mengatasi masalah keterbatasan benih yang selama ini menjadi kendala utama dalam pengembangan budidayanya. Potensi lahan budidaya yang cukup memberikan peluang, dengan penawaran harga yang cukup menarik merupakan daya dukung tersendiri bagi terselenggaranya kegiatan budidaya dalam rangka diversifikasi usaha.

Aspek Biologi
Kakap Putih bersifat Euryhaline dan Katadromus hidup di perairan tropik dan subtropik Indopasifik Barat. Ikan jantan yang telah mencapai bobot 2-2,5 kg dapat berubah kelamin menjadi betina (Protandry Hermaprodite).

Teknologi Pembenihan
1. Pengadaan dan Pemeliharaan Induk

Calon Induk dapat diperoleh dari hasil tangkapan di alam maupun hasil penangkaran. Untuk mempercepat pematangan kelamin, calon induk dipelihara di laut dengan menggunakan jaring apung, kepadatan 1 ekor per 1-2 menter per kubik air.

Pakan berupa ikan rucah segar diberikan 1 kali sehari dengan jadwal waktu yang tetap. Dosis pakan 5% dari total berat badan per hari, kemudian diturunkan menjadi 1-3% pada saat musim pijah tiba.

Pengontrolan kondisi fisik sarana pemeliharaan dilakukan rutin setiap hari, penggantian jaring sebulan sekali untuk mencagah lolosnya ikan, mengurangi Fauling Organisme dan menciptakn suasana yang nyaman serta alami.

2. Seleksi Induk

Kriteria induk yang baik untuk dipijahkan :

  • Induk sehat berwarna kelabu cerah
  • Gerakan aktif
  • Sirip dan sisip lengkap serta tidak cacat
  • Mata berwarna jernih
  • Umur minimal 3 tahun dengan berat badan 2-5 kg/ekor
  • Ukuran diusahakan seimbang

Pemeriksaan tingkat pematangan gonad dapat dilakukan dengan cara stripping atau kanulasi terhadap ikan yang telah dipingsankan dengan Ethylineglicol monophenil ether 200 ppm. Oocyst yang siap dipijahkan berdiameter 0,4-0,5 mm.

3. Pemijahan

Dilakukan dengan cara menginduksi hormon LH – RH a pada induk jantan dan betina pilihan secara intramuscular dibawah sirip punggung. Penyuntikan dilakukan satu kali (pukul 10.00 pagi) dengan dosis 0,05 mg per kg berat total ikan.

Sex ratio pemijahan 1:1, secara normal ikan akan memijah pada malam hari (± 32 jam setelah penyuntikan hormon).

4. Pemanenan dan Penetasan Telur

Telur yang baru saja dipanen diseleksi, kemudian dipindahkan ke dalam bak penetasan dengan kepadatan telur 50-100 butir/liter air. Masa inkubasi ± 18 jam, dan larva yang baru menetas memiliki panjang total 1,60 ± 0,04 mm.

5. Pemeliharaan Larva dan Benih

Bak pemeliharaan larva dilengkapi dengan pipa pemasukan dan pembuangan air, serta unit aerasi untuk mensuplai oksigen. Secara ringkas jadwal kegiatan operasional pemebrian pakan, penggantian air media dan penjarangan padat tebar benih hingga umur 30 hari dapat dilihat pada lampiran berikut.

Efesiensi Pemeliharaan
Setiap kilo bobot induk dapat menghasilkan telur sekitar 0,6-0,76 juta butir. Saat kondisi normal tingkat penetasan mencapai 85%. Tingkat kelulushidupan larva pada umur 15 hari (70-80%) dan pada umur 30 hari (30-50%).

Dalam satu tahun bisa dilakukan 8 kali pemijahan, dimana setiap kali produksi membutuhkan waktu kurang lebih 40 hari, dengan produksi benih 5000 ekor/m3, umur 30 hari.

Sumber : Loka Budidaya Laut Batam

[ Jadwal Kegiatan Operasional Pemeliharaan Larva dan ]



Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Categories: Uncategorized

Pembenihan Ikan Gurami

April 28, 2008 · Leave a Comment

[ kembali ]
04/05/04 – Informasi: Teknologi
Pembenihan Ikan Gurami

Pembenihan Ikan Gurami Secara Alami

Usaha budidaya untuk keperluan konsumsi sudah berkembang pesat seiring dengan kemanjuan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang perikanan. Teknik budidaya ikan terus dikembangkan, baik jenis ikan yang dipelihara, fasilitas budidaya, penggunaan pakan dan cara reproduksi ikan untuk mengembangkan suatu spesies guna memperoleh keturunan lebih baik. Jaminan penyediaan benih dalam kualitas dan kauntitas yang memadai merupakan suatu syarat yang dapat menentukan keberhasilan usaha budidaya ikan. Banyak jenis dan ragam ikan yang mempunyai nilai ekonomis telah dikembangkan baik untuk pembesaran maupun perbenihan. Salah satunya adalah ikan gurami.

Biologi Ikan Gurami
Dalam sistematikanya ikan gurami diklasifikasikan dalam :

  • Kelas : Pisces
  • Ordo : Labyrinthici
  • Famili : Anabantidae
  • Genus : Osphronemus
  • Spesies : Osprhronemus gouramy Lac

Kegiatan Pembenihan
Kegiatan pembenihan terdiri atas beberapa tahapan yaitu :

1. Seleksi induk jantan dan betina yaitu :
Ciri induk jantan dan betina yaitu :

Ciri jantan :

  • Dahi agak menonjol menyerupai cula
  • Dasar sirip dada terang keputihan
  • Dagu berwarna kuning
  • Jika diletakkan di tempat datar ekornya naik keatas
  • Ujung ekor hampir rata
  • Bila dipencet perlahan kelaminnya mengeluarkan cairan sperma
  • Sangat baik untuk dijadikan induk berumur antara 3-7 tahun.

Ciri betina :

  • Dahi rata
  • Dasar sirip dada gelap kehitaman
  • Jika diletakkan di tempat datar ekornya digerak-gerakkan
  • Ujung sirip ekor bundar
  • Sangat baik dijadikan induk berumur antara 5-10 tahun.

2. Pembuatan Sarang
Kerangka sarang terbuat dari bambu yang ujungnya dibelah dan dianyam berbentuk kerucut. Diameter kerangka sarang antara 30-40 cm dan panjang ± 35 cm. Sarang diletakkan dibawah permukaan air antara 20-25 cm. Mulut sarang diarahkan keatas permukaan air dengan kemiringan 45o.

Bahan sarang dapat menggunakan ijuk, sabut kelapa yang diusai-usaikan atau serat tanaman lainnya. Penempatan sarang sebaiknya disudut kolam dan dijepit secara longgar dengan bilah bambu. Bahan sarang (ijuk) untuk pembuatan sebuah sarang ukuran sedang antara 1-1,5 kg berat kering atau disesuaikan dengan bentuk dan ukuran kerangka sarang.

3. Pemijahan
Bila di kolam tidak dibuatkan sarang, biasanya induk gurami membutuhkan waktu membuat sarang setelah 15 haru dilepaskan, kesibukan ini berlangsung sekitar 1 minggu.

Pada saat proses pemijahan, telur dan sperma akan sama-sama dimasukkan oleh masing-masing induk. Proses pemijahan berlangsung selama 2-3 hari. Perbandingan ideal untuk induk jantan dan betina adalah 1:3.

4. Penetasan Telur
Sarang yang berisi telur dibersihkan atau dipisahkan dari kotoran yang menempel dengan cara membuka tutup sarang terlebih dahulu. Telur yang baik dan bakal menetas berwarna kuning mengkilat dan telur yang tidak baik berwarna keruh.

Telur kemudian dimasukkan ke dalam akuarium dengan tinggi air cukup 20 cm. Pada suhu 29oC telur akan menetas dalam waktu 30-36 jam. Setelah menetas tidak perlu diberi makanan tambahan karena masih tersedia kuning telur pada tubuhnya hingga umurnya 7-8 hari. Air diakuarium setiap hari dibersihkan dengan cara disiphon dengan membuang sepertiga sampai setengah bagian dan diganti air baru.

5. Pemeliharaan Larva
Larva dipindah ke kolam untuk dilakukan pendederan setelah berumur 10-12 hari. Pada umur tersebut bobot larva sudah mencapai 10 mg. Dengan penanganan yang baik kelangusungan hidup larva atau benih muda sampai umur 12 hari mencapai 90%.

Fase larva merupakan masa kritis dalam hidup ikan sehingga mortalitas pada fase ini sangat tinggi. Karena itu pengelolaan kesehatan lingkungan perkolaman dan pakan harus diperhatikan. Pakan yang diberikan sudah bisa berupa pakan buatan yang berbentuk powder dengan dosis 15-20% per berat biomassa, dengan frekuensi pemberian pakan 2-3 kali sehari.

Sumber :
Loka Budidaya Air Tawar Mandiangan Kalimantan Selatan
Jl. Tahura Sultan Adam Mandiangan, Kab. Banjar, Kalimantan Selatan
Tel/Fax : 0511-780758

Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Categories: Uncategorized

Pembenihan Kuda Laut

April 28, 2008 · 3 Comments

[ kembali ]
24/06/04 – Informasi: Teknologi
Pembenihan Kuda Laut 

Kuda Laut (Hippocampus) merupakan salah satu jenis ikan hias yang bernilai tinggi. Selain untuk kebutuhan pasar dalam negeri juga memasuki pasaran luar negeri. Dari data yang telah ada kuda laut telah diekspor ke beberapa negara antara lain : Singapura , Hongkong , Taiwan, AS, dan Eropa . Pemasaran kuda laut meliputi dijual hidup untuk ikan hias, dijual kering sebagai bahan ramuan obat tradisional (obat kuat) dan untuk jenis penyakit tertentu.

Benih merupakan salah satu faktor pembatas yang menyebabkan budidaya kuda laut belum berkembang. Dengan keberhasilan rekayasa teknik pembenihan kuda laut di Balai Budidaya Laut Lampung, maka usaha budidayanya segera dapat dikembangkan sehingga ketergantungan hasil tangkapan di alam dapat dikurangi.

Pemeliharaan Induk

Induk kuda laut yang diperoleh di alam dipelihara di bak beton 5 m3 di laboratorium. Di dalam bak dibuatkan tempat bertengger berbentuk prisma (piramid) dari bambu. Pemberian pakan 2-3 kali sehari adlibitum yaitu pada pagi, siang dan sore hari, berupa udang rebon dan udang jambret.

Pemijahan dan Pengeraman

Kuda laut dapat memijah secara alami di bak terkontrol, telur hasil pijahan akan dierami oleh induk jantan. Setelah terjadi pemijahan, induk jantan dipisahkan atau tetap bersama dengan induk yang lain. Lama pengeraman lebih kurang 10 hari. Sebaiknya induk dihindarkan dari hal-halyang menyebabkan stress yang mengakibatkan juwana dikelurakan sebelum waktunya (premature) sehingga tidak mampu bertahan hidup lebih lama.

Kelahiran Juwana

Induk jantan yang sudah mengerami telur pada hari ke-9 dipindahkan ke bak lain yang telah disiapkan sebelumnya. Pada hari ke-10 juwana akan dikeluarkan dari kantung jantan. Pengeluaran juwana umumnya pada malam hari. Setelah seluruh juwana dikeluarkan, induk jantan dipindahkan ke bak pemeliharaan induk.

Padat Penebaran

Juwana dapat dipelihara di tempat terlindung maupun yang terkena sinar matahari langsung. Pemeliharaan di bak beton maupun di bak fibreglass memberikan hasil yang cukup baik. Pada penebaran juwana umur 1 hari (D!) adalah 1-5 ekor / liter.

Penyiapan dan Pemberian Pakan

Nauplii Copepoda
Nauplii Copepoda dapat digunakan sebagai pakan awal juwana kuda laut umur 1 – 15 hari. Copepoda dapat dikultur di air laut (25-30 ppt) ditambah pupuk organik selama 5-8 hari. Nauplii Copepoda dipanen dengan plankton net 60 mikron.

Artemia
Nauplii artemia baru diberikan setelah juwana berumur 14 hari. Kista artemia dapat ditetaskan dalam fibreglass, yang pada bagian bawahnya berbentuk kerucut dan berwarna terang, diisi air laut bersih dan diberi aerasi kuat. Telur akan menetas setelah 19-24 jam pada temperatur kamar.

Kualitas Air Pemeliharaan

Parameter
Induk
Juwana
DO (ppm)
Temperatur (oC)
Salinitas (ppt)
pH
5-6
27-29
32-34
-
5-6
27-31
31-33
7,8-8,2

Pengganti Air dan Penyiponan

Penggantian air dilakukan setiap hari mulai hari ke-3 sebanyak 5-50% sampai umur 30 hari. Sebelum dilakukan penggantian air terlebih dahulu dapat dilakukan penyiponan untuk membersihkan kotoran dan sisa pakan yang mati dan mengendap di dasar bak. Bila kotoran dan sisa pakan yang mati tidak dibuang akan membusuk dan mengakibatkan menurunnya kualitas air. Penyiponan hendaknya dilakukan dengan hati-hati, untuk menghindari teraduknya kotoran. Sebaiknya pengudaraan dihentikan terlebih dahulu selama penyiponan.

Phytoplankton

Phytoplankton misalnya Tetraselmis atau dari jenis lain dapat ditambahkan ke dalam bak pemeliharaan. Kepadatan phytoplankton dapat bervariasi sesuai kebutuhan, 50-300 ribu sel/ml untuk Tetraselmis. Penambahan phytoplankton selain berperan penting untuk memperbaiki kualitas air juga berfungsi untuk pakan Copepoda dan Artemia.

Petumbuhan

Pertumbuhan juwana kuda laut cukup baik dengan parameter panjang tubuh dan berat badan sebagai berikut :

Umur (Hari)
Panjang Tubuh (Cm)
Berat Badan (Gram)
1
20
30
0,5-0,6
3,00
3,97
0,028
0,125
0,206

Kelulusan Hidup

Kelulusan hidup pemeliharaan juwana kuda laut diluar laboratorium adalah sebagai berikut :

Jumlah Awal (ekor) D1
Jumlah Akhir (ekor) D30
SR (%)
5.500
7.040
5.300
4.000
1.281
2.710
1.500
1.000
23,3
38,5
34,9
25,0

Kuda laut yang mempunyai nilai ekonomis, cukup baik dan dapat dikembangbiakan di panti pembenihan. Hal ini diharapkan akan mampu mendorong perkembangan budidaya dimasa yang akan datang, sehingga ketergantungan akan hasil tangkapan dari alam dapat diatasi.

Sumber : Balai Budidaya Laut Lampung, Kotak Pos 74, Teluk Betung, Bandar Lampung 35401, Telp/Fax : 0721-471379.

Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Categories: Uncategorized

Budidaya Maskoki

April 28, 2008 · Leave a Comment

06/08/03 – Informasi: Teknologi
Budidaya Maskoki

Dari sederetan jenis-jenis ikan hias yang beredar di Indonesia Maskoki adalah yang paling dominan. Hal tersebut mengingat beberapa kelebihan yaitu harganya yang relatif murah, bentuk siripnya yang indah melambai-lambai, kepalanya menyerupai singa, tubuhnya yang dilapisi aneka warna dengan gerakannya yang semampai telah menciptakan pesona tersendiri.

Maskoki (Carrasius carrasius var auratus) aslinya berasal dari negeri Cina. Kini telah tersebar di Indonesia, menghiasi setiap rumah yang mendambakan kesejukan dan kedamaian. Tanda-tanda ikan betina yang sudah matang yaitu bagian perut agak membengkak dan bentuk dubur besar dan bulat. Sedangkan untuk ikan jantan terdapat benjolan kecil berwarna putih pada tutup insang atau kadang-kadang pada jari-jari pertama sirip dada serta bentuk dubur oval dan kecil.

Kolam lnduk :

  • lnduk jantan dan betina yang telah berumur 2-4 tahun ditempatkan secara terpisah dalam bak yang cukup mendapat sinar matahari.
  • Ukuran bak 2 x 2 x 0,6 meter yang dilengkapi saluran pengeluaran air.
  • Air berasal dari air tanah yang telah diendapkan atau ledeng yang kaporitnya telah dinetralisasi. Hindarkan menggunakan air sungai atau air selokan yang sering mengandung bibit penyakit.
  • Untuk menghilangkan kadar kaporit pada air ledeng, tambahkan 1 sendok makan sodium theosulfat per 200 liter air.
  • Beri pakan alami cacing rambut atau pakan buatan dengan kadar protein minimal 15%.

Pemijahan :

  • Bak pemijahan dijemur sampai dasamya kering.
  • Masukkan air setinggi 25 cm. Jalankan aerator dan pasang termostat untuk mengendalikan suhu air.
  • Masukkan ke kakaban atau tanaman air yang mengapung sebanyak 1/3 luas permukaan.
  • Upayakan suhu air 23-27° C, pH 7,2 – 7,5, O2 terlarut 5 ppm kesadahan 1 air 50-200 dH (1 dH = 7,1 ppm).
  • Menjelang magrib, pasangan mas koki di masukkan ke dalam bak dengan perbandingan betina : jantan
    = 1:3.
  • lkan akan kawin pada malam hari menjelang subuh.
  • Esok harinya akan terlihat telur-telur dengan diameter 0,7 -1,5 mm menempel di kakaban.
  • Hindarkan telur-telur dari curahan air hujan atau sengatan matahari langsung.
  • Biarkan telur sampai menetas.
  • I nduk -induk ikan diambil dan ditempatkan di kolam induk kembali.
  • Tingkatkan aerasi dalam bak pemijahan.
  • Sebagian air diganti dengan cara menyipon.
  • Untuk menghindari tumbuhnya jamur, teteskan Malachit Green 1 ppm (1 mg untuk 1000 liter air). Setelah 15 menit air dibuang dan diganti dengan air yang baru.
  • T elur akan menetas dalam waktu 2 hari pada suhu 27°C menjadi larva dengan ukuran 5 mm.
  • Setelah berumur 2-3 hari berikan makanan berupa jasad renik (moina, dapnia, infusria, rotifera), cacing rambut atau makanan buatan.
  • Lakukan seleksi setelah berumur 2 minggu, 3 minggu dan 2-3 buian.
  • lkan-ikan yang harus dibuang adalah yang ekornya seperti karper atau tidak punya sirip ekor, siripnya rusak atau warnanya kurang indah.

Pemeliharaan di akuarium :

  • Ukuran akuarium yang ideal untuk rumah tangga adalah 90 x 30 x 38 cm.
  • Maskoki berkembang biak pada temperatur tropis, tapi warna yang paling cemerlang pada temperatur 18-21° C (daerah sub tropis).
  • PH air diusahakan 6,5 – 7
  • Hindarkan pH 8 atau lebih karena membuat warnanya menjadi pucat
  • Bubuhkan pembunuh spora lumut, seperti Physan
  • Berikan makan cukup sehari sekali dengan pakan alami atau pakan buatan. Kandungan vitamin A dalam pakan harus cukup untuk mencemerlangkan warna
  • Gunakan lampu neon 10 watt untuk akuarium dengan panjang 30 cm, dan 20 watt untuk yang 60 cm. Jangan menggunakan lampu pijar karena dapat menaikkan suhu air
  • Lampu dinyalakan cukup 10 – 15 jam sehari
  • Gunakan aerator untuk supply oksigen, perputaran air, menguapkan gas-gas beracun, menetralkan suhu dan memperindah pemandangan
  • Ganti air seminggu sekali sebanyak 1/4 – 1/3 bagian dengan cara menyipon.
  • Gunakan filter untuk membersihkan kotoran yang melayang dalam air
  • Untuk menghilangkan kotoran yang menempel di kaca seperti lumut, gunakan penghapus bermagnet
  • Pilihlah Maskoki yang ukurannya seragam dan jangan dicampur ikan lain yang “nakal”
  • Berikan tanaman air Sagitaria natans, Vallisneria spiralis, Eleocharis acicularis atau gambar tanaman sebagai latar belakang
  • Tempatkan akuarium yang bebas dari lalu lintas orang, tidak terkena matahari, dekat stop kontak dan posisiyang enak dipandang

     

 

 

Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Categories: Uncategorized

Teknik Pembenihan Ikan Papuyu (Anabas testudineus Bloch)

April 28, 2008 · 7 Comments

26/06/03 – Informasi: Teknologi
Teknik Pembenihan Ikan Papuyu (Anabas testudineus Bloch)

PENDAHULUAN

Ikan Papuyu merupakan ikan lokal air tawar yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan digemari oleh masyarakat Kalimantan terutama masyarakat Kalimantan Selatan, tetapi belum banyak dibudidayakan. Untuk itu diperlukan usaha pembenihan guna kontinuitas suplai benih yang memenuhi syarat kualitas dan kuantitasnva.
Usaha pembenihan bertujuan untuk menghasilkan benih dalam jumlah besar, sehingga tidak tergantung pada ketersediaan di alam yang pada akhirnya dapat menunjang kegiatan usaha pembesaran dan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani ikan sekaligusdapat menunjang peningkatan produksi budidayanya. Juga turut serta dalam upaya pelestarian plasma nuftah pada umumnya dan khususnya ikan Papuyu.

BIOLOGI IKAN PAPUYU


Sistematika menurut Hasannudin Saanin (1984) sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Labytinthichi
Famili : Anabantidae
Genus : Anabas
Species : Anabas testudineus Bloch

Nama Daerah : Betik Jawa dan Sunda, Papuyu (Banjarmasin), Puyu (Malaya) dan Kalimantan Timur, Geteh-geteh (Manado).

Nama Umum : Walking Fish atau Climbing Perch.

PEMBENIHAN

Tahapan kegiatan pembenihan ikan Papuyu meliputi seleksi induk. pemijahan. penetasan telur dan pemeliharan larva.

1. Seleksi Induk

a. Ciri-ciri induk jantan dan betina


Betina :

  • Tubuh gemuk dan lebar kesamping,
  • Warna badan agak gelap,
  • Sirip punggung lebih pendek,
  • Bagian bawah perut agak melengkung,
  • Jika matang gonad pada bagian perut diurut akan keluar telur,
  • Alat kelamin berwarna kemerah-merahan.

Jantan :

  • Tubuh ramping dan panjang,
  • Warna badan agak cerah,
  • Sirip punggung lebih panjang,
  • Bagian bawah perut rata,
  • Jika perut diurut akan keluar cairan sperma berwarna putih susu.

b. Beberapa persyaratan induk

  • Ukuran induk betina yang ideal diatas 90 gram dan jantan diatas 30 gram,
  • Badan terlihat segar (tidak cacat) dan gerakannva lincah,
  • Mampu menghasilkan telur dalam jumlah cukup banyak,
  • Umur induk lebih dari 10 bulan,
  • Pertumbuhannya cepat.

2. Pemijahan

a. Bahan dan alat

  • Induk ikan papuyu yang matang gonad
  • Ovaprim
  • Aquabidest
  • Akuarium ukuran 60 x 40 x 45 cm
  • Alat suntik
  • Alat aerasi (Hi-Blow/Aerator)
  • Baskom, serok senter dan timbangan

b. Perlakuan

Ikan Papuyu memijah sepanjang musim penghujan, pada saat musimnya mampu memijah 2 – 3 kali dengan jumlah telur (fekunditas) 5.000 – 15.000 butir. Pemijahan dilakukan dengan induced breeding (kawin suntik) menggunakan hormon ovaprim, dosis penyuntikan 0,5 cc/kg induk. Perbandingan 1: 1 (dalam berat). Pemijahan dapat dilakukan di akuarium atau fibre glass. Penyuntikan secara intramuscular pada otot punggung induk. Induk betina 2 kali penyuntikan dan induk jantan 1 kali penyuntikan. Interval waktu penyuntikan I ke penyuntikan II adalah 6 jam. Penyuntikan induk jantan bersamaan pada saat penyuntikan II induk betina. Proses terjadinya ovulasi tanpa dilakukan stripping (pemijahan secara alami).

3. Penetasan Telur

Setelah penyuntikan II induk betina, maka ovulasi akan terjadi 5 jam berikutnya. Telur akan menetas dalam waktu 20 – 24 jam pada suhu 260C atau akan menetas dalam waktu 12 jam pada suhu 300C. Prosentase dari telur yang dibuahi sekitar 95% dengan daya tetas (HR) 95%. Penetasan telur bisa langsung di akuarium atau langsung ke tempat Pendederan I jika sudah siap.

4. Pemeliharaan Larva

Larva yang baru menetas tidak perlu diberi makanan tambahan sebab masih mempunyal cadangan makanan dari kantong kuning telur (yolk egg).Setelah larva berumur 4 hari diberi makanan tambahan berupa suspense kuning telur. Frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari (pagi, siang dan sore) selama 10 hari. Setelah itu bisa diberikan makanan pellet yang dihaluskan. Masa kritis larva terjadi pada saat hari ke-7 sampai hari ke-14. Pendederan larva dilakukan di kolam semi permanen, dimana kolam tersebut terlebih dahulu dilakukan pengolahan lahan dengan diberi dosis pupuk dan kapur sesuai anjuran.

Pemeliharaan ini selama 45 hari dengan padat tebar 50 ekor/m . Selama masa pemeliharaan 45 hari benih ikan diberi pakan tambahan berupa pellet yang dihancurkan sebanyak 10 – 20% per hari dengan frekuensi pemberian 2 kali/hari. Umur 45 hari sudah mencapai benih ukuran 1 – 3 cm, dan benih bisa dipanen untuk di tebar ke kolam pendederan berikutnya.

 



Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Categories: Uncategorized

Budidaya Ikan Severum

April 28, 2008 · Leave a Comment

[ kembali ]
14/08/03 – Informasi: Teknologi
Budidaya Severum

lkan ini berasal dari Amerika Selatan sampai Amazona kecuali sungai Magdalena. Tubuh Severum pendek, gemuk dan gepeng. Warna dasar tubuhnya bervariasi antara coklat kekuning-kuningan dan hitam kecoklatan. Pada tubuhnya banyak terpatri bintik-bintik dan terkadang polos saja, kadang-kadang nampak bercak-bercak hitam. Sifat yang menonjol dari Severum hampir sama dengan sifat ikan Oscar yaitu suka mengaduk-aduk tanaman dalam akuarium dan membuat lubang pada dasar yang berbatu-batu. Sifat lain diantaranya adalah terbilang ganas bila sedang birahi, karenanya Severum lebih cocok apabila dipelihara dengan ikan yang sama besamya.
Memilih induk

  • lnduk yang akan dipijahkan berumur antara 10-12 bulan dan ukuran tubuhnya 12-15 cm.
  • lnduk jantan bertubuh lebih besar dengan wama cerah clan berbintik-bintik lebih jelas.
  • lnduk betina bertubuh agak kecil, bulat dengan wama lebih pucatdan bintik-bintiknya kurang jelas.
  • Jika telah matang kelamin induk betina berwarna lebih cerah selama masa birahinya, sedangkan yang jantan berwarna lebih gelap dan bergaris-garis pada badannya lebih kelihatan.

Pemijahan

  • Sediakan akuarium berukuran agak luas dengan ketinggian air 30-40 cm, atau bak semen ukuran 1 x 2x 0,5 cm.
  • Air bersih dati sumur/ PAM yangtelah diendapkan selama 24 jam.
  • Pasang filter clan aerator.
  • Suhu air antara 21-25 0C dan pH antara 5,5-7.
  • Masukkan batu pipih tempat meletakkan telur.

lnduk yang telah matang kelamin dimasukkan ke dalam tempat pemijahan yang telah dipersiapkan. Telur yang telah dibuahi akan diletakkan pada batu pipih. Telur itu secara seksama akan dijaga oleh kedua induknya. Agar lebih praktis, telur yang melekat dipindahkan ke tempat lain atau akuarium yang telah dipersiapkan. Hari ketiga telur akan menetas dan baru bisa berenang setelah umut 6 hari. Tiga hari setelah menetas boleh diberi makanan berupa anak dafnia atau larva artemia yang baru menetas.

Pendederan
Pendederan benih dapat dipakai bak semen atau akuarium, tinggi air cukup 40 cm. Benih yang berusia 2 minggu dapat dipelihara dalam bak ukuran 2 m2 sebanyak 1.000 ekor. Selama pendederan sebaiknya dilakukan sortasi, yaitu yang tumbuh lebih cepat segera dipisahkan agar tidak saling menyerang terutama dalam perebutan makanan.

Keterangan Gambar : Banded Chiclio (Chichlasoma severum)

 
Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Categories: Uncategorized

Budidaya Manvis

April 28, 2008 · Leave a Comment

Manvis dikenal juga sebagai Angelfish, merupakan salah satu ikan hias yang sangat digemari oleh masyarakat. Ikan ini bukan asli Indonesia, berasal dari perairan sungai Amazona di Amerika Selatan. Manvis mempunyai bentuk dan warna tubuh serta gerak gerik yang sangat indah dan menarik, dan sangat cocok untuk dipelihara di akuarium ebagai pajangan. Keindahannya dapat memeberi kesan tersendiri bagi yang memandangnya. Penggemarnya banyak dan harganya relatif tinggi. Budidaya Manvis di Indonesia telah berkembang dengan pesat baik sebagai kesenagan maupun usaha komersial.

Tempat Hidup
Secara alami Manvis hidup diperairan yang tenang dan banyak tanamannya. Oleh karena itu bila Manvis dipelihara didalam akuarium yang terlalu terang dan banyak ikannya, kelihatan gelisah. Cocok sekali bila dipelihara dalam akuarium bersama jenis ikan yang garaknya lamban
Manvis sangat sayang terhadap anaknya. Ia dengan cepat melindungi anaknya bila ada gangguan dari luar dengan jalan menyimpan didalam mulutnya. Sifat seperti kurang menguntungkan pada saat pemijahan, karena itu tempatnya harus benar-benar aman. Dalam usaha budidaya, biasanya peternakan Manvis di DKI Jakarta menggunakan kolam yang terbuat dari semen.

Cara Pemijahan
Untuk memijahkan Manvis hndaknya digunakan induk yang benar-benar sudah dewasa dan matang telur, agar bisa didapatkan anakan yang bagus dan sehat. Ini akan memudahkan dlam pemeliharaan selanjutnya. Manvis siap memijah setelah beumur 9-12 bulan. Setiap kali memijah dapat menghasilkan 300-400 anak.

Pemilihan induk:
Jenis kelamin Manvis dapat dibedakan dengan melihat bentuk dari bagian-bagiannya:

a. Induk jantan

  • Pada umur yang sama, ukuran lebih besar dari induk betina
  • JIka dipndang dari atas, perut kelihatan ramping
  • Kepala agak besar, bagian antara mulut dan punggung berbentuk garis cembung

b. Induk betina

  • Ukuran relatif lebih kecil dari induk jantan
  • Perut agak membesar dan menonjol
  • Kepala agak kcil dan bagian antara sirip punggung dan kepala membentuk garis lurus

Tempat Pemijahan

Ada beberapa tempat yang harus digunakan antara lain kolan dan akuarium

1. Kolam

  • Kolam dibuat dari tanah biasa atau dari semen, berukuran 1 meter persegi dengan kedalaman 80 cm
  • Kolam yang masih baru tidak boleh langsung digunakan, bau semennya harus dihilangkan terlebih dahulu, dengan cara direndam dengan air selama beberapa hari. Untuk lebih cepatnya dapat ditambahkan pelepah pohon pisang
  • Setelah bau semen hilang, direndam lagi dengan air biasa selama 4 hari, selanjutnya dibersihkan lagi dan dikeringkan
  • Pada saat akan dipakai, kolam diisi dengan air tawar sampai kedalaman 30-60 cm
  • Bila kolam pemijahan terletak di tempat terbuka perlu diberi tanaman air, misalnya enceng gondok untuk memberi suasana teduh dan tenan

2. Akuarium

  • Akuarium yang digunakan berukuran sedang yaitu panjang 100 cm, lebar 75 cm dan tinggi 50 cm, dengan tebal kaca 5-6 mm
  • Sebelum digunakan akuarium dibersihkan terlebih dahulu. Kemudian diisi air dengan ketinggian 30-40 cm
  • Didalam akuarium diberi pecahan genteng untuk memberi bau air yang alami
  • Selanjutnya induk yang telah dipilih dapat dipijahkan secara berpasanagan

Seperti ikan Chiclid lainnya, Manvis menempelkan telurnya yangtelah dibuahi pada suatu benda. Oleh karena itu tempat pemijahan harus diberi potongan paralon atau benda lain yang permukaannya halus sebagai tempat menempelnya telur.
Air yang digunakan harus jernih dengan keasaman normal (pH antara 6,8-8,2) dan suhunya antara 24-26oC. Air yang berasal dari PAM atau sumur hendaknya diendapkan terlebih dahulu selama lebih kurang 24 jam. Saat pemijahan Manvis memerlukan tempat yang gelap, oleh karena itu perlu diberi tanaman yang mengapung, misalnya enceg gondok. Bila menggunakan akuarium dindingnya tertutup dengan kertas warna gelap.

Pemijahan
Manvis memijah pada malam hari ketika suasana tenang dan sepi. Telur yang telah dibuahi menempel pada tempat yang telah sediakan. Setelah memijah induknya secara bergantian menjaga telurnya dengan mengibaskan ekornya untuk menambah Oksigen.
Telur tersebut menetas 24-36 jam dari saat dibuahi pada suhu optimal, antara 27-31o C. Burayak sudah tumbuh sirip pada umur 40-60 jam. Pada masa seperti ini makanannya masih berupa egg sach (kuning telur) dan belum memerlukan pakan tambahan

Pembesaran
Pembesaran Manvis dilakukan didalam kolam yang berukuran antara 3-4 m2 dengan kedalaman air 30 cm. Kepadatan ikan antara 150-200 ekor setiap kolam atau disesuaikan menurut ukurannya, semakin besar semakin jarang. Untuk memberikan suasana teduh dan tenang, kolam diberi peneduh tanaman enceng gondok, anyaman bambu, atau seng. Makanan yang diberikan disesuaikan dengan ukuran tubuh dan umurnya. Pada minggu pertama biasanya masih diberikan rotifera, setelah agak besar diberi kutu air yang disaring, selanjutnya tanpa disaring dan akhirnya dapat diberi cacing sutera. Setelah pencapaian dewasa dapat diberi pakan buatan (pellet) yang diberikan secara bergantian.dengan cacing sutera.

 
Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Categories: Uncategorized

Budidaya Ikan Jelawat

April 28, 2008 · Leave a Comment

01/09/03 – Informasi: Teknologi
Budidaya Ikan Jelawat

Ikan Jelawat (Leptobarbus hoeveni) ikan asli Indonesia terdapat dibeberapa sungai di Sumatra dan Kalimantan. Merupakan jenis ikan ekonomis penting sangat digemari masyarakat Indonesia bahkan beberapa negara tetangga. Termasuk komoditas ekspor potensial.

Meskipun pemeliharaan ikan jelawat sudah lama dilakukan namun pasokan benih sepenuhnya masih mengandalkan hasil penangkapan dari perairan umum yang dilakukan pada musim hujan. Jenis ikan ini berbiak di sungai pada permulaan musin hujan, dengan anak benih tersedia secara musiman. Kaena pasar benih hanya mengandalkan hasil penangkapan di perairan umum maka kurang terjamin kontinuitasnya sehingga budidaya ikan ini akan terganggu.

Melihat aspek kebutuhan benih yang masih mengandalkan alam maka penguasaan teknologi pembenihan jeni ikan ini merupakan upaya yang pelu diaktifkan. dan ini merupakan peluang usaha yang dapat menghasilkan keuntungan yang besar.

Pembenihan Ikan Jelawat (Leptobarbus hoeveni)

Metode dan Cara

Pematangan Gonad

  • Induk dipelihara dalam kolam khusus berukuran 500-700 m2 penebaran 0,1-0,25 kg/m2
  • Selama pemeliharaan, induk ikan dibi pakan pelet dengan kandungan protein 25-28%
  • Pakan diberikan sebanyak 3 % dari berat badan dengan frekwensi 2-3 per hari
  • Selain pelet diberikan juga pakan berupa hijauan seperti daun singkong secukupnya
  • Lama pemeliharaan induk lebih kurang 8 bulan
  • Induk yang siap pijah diperoleh dengan cara seleksi

Pemijahan

Pemijahan jelawat dapat dilakukan scara alami dan buatan. Dalam paket teknologi ini dilakukan pemijahan buatan.

  • Induk terseleksi perlu diberok selama satu hari
  • Penyuntikan hormon HCG dan kelenjar hipofisa terhadap induk betina dilakukan 2 kali
  • Penyuntikan I (PI) : 1 dosis kelenjar hipofisa ditambah 200 IU HCG per induk betina
  • Penyuntikan II (PII) : 2 dosis kelenjar hipofisa ditambah 300 IU per induk betina
  • Selang waktu antara PI dan PII, 5-6 jam
  • Ovulasi terjadi antara 10-1 jam dari PI
  • Telur dan sperma dikeluarkan dengan cara diurut
  • Pembuahan telur dilakukan dengan mencampurkan sperma dan telur di baskom plastik
  • Jika telur telah mengembang siap untuk disimpan dalam wadah penetasan

Penetasan

  • Padat tebar 400-500 butir telur per liter
  • Selama penetasan air harus dijaga kialitasnya (O2 4-8 ppm; pH 7,0-8,0; T:25-28 derajat C)
  • Pada suhu air 25-28 derajat C telur akan menetas 18-4 jam setekah pembuahan

Pemeliharaan Larva

  • Larva dipelihara langsung ditempat penetasan telur
  • Cangkang dan telur yang tidak menetas dibersihkan secara penyiponan
  • Hari ke 3 larva diberikan pakan Naupil Artemia (yang baru menetas) secukupnya
  • Pemberian pakan 3 kali sehari (pagi, siang ,sore)
  • Hari ke 7 setelah menetas benih ikan siap untuk didederkan di kolam

Pendederan

  • Persiapan kolam meliputi pengeringan 2-3 hari, perbaikan pematang, pembuatan saluran tengah (kamalir) dan pemupukan dengan pupuk kandung sebanyak 500-700 gr per m2. Kolam diisi air sampai ketinggian 80-100 cm. Pada saluran pemasukan dipasang saringan berupa hapa halus untuk menghindari masuknya ikan liar
  • Benih ditebarkan 3 hari setelah pengisian air kolam dengan padat penebaran 100-150 ekor/m2
  • Benih ikan diberi pakan berupa tepung hancuran pelet dengan dosis 10-20 % per hari yang mengandung lebih kurang 25% protein
  • Lama pemeliharaan 2-3 minggu
  • Benih yang dihasilkan ukuran 2-3 cm dan siap untuk pendederan lanjutan

Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Categories: Uncategorized