| [ kembali ] | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Entries from April 2008
Pembenihan Nila Merah (Oreochromis sp) dalam Bak Semen
April 28, 2008 · 2 Comments
Categories: Uncategorized
Pembenihan Ikan Baung
April 28, 2008 · 1 Comment
|
|
Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia |
|
|---|---|
Categories: Uncategorized
Pembenihan Kakap Putih
April 28, 2008 · Leave a Comment
| [ kembali ] | |
|
|
Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia |
|
|---|---|
Categories: Uncategorized
Pembenihan Ikan Gurami
April 28, 2008 · Leave a Comment
| [ kembali ] | |
|
Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
Categories: Uncategorized
Pembenihan Kuda Laut
April 28, 2008 · 3 Comments
| [ kembali ] |
|
|
Categories: Uncategorized
Budidaya Maskoki
April 28, 2008 · Leave a Comment
06/08/03 – Informasi: Teknologi
Budidaya Maskoki

Dari sederetan jenis-jenis ikan hias yang beredar di Indonesia Maskoki adalah yang paling dominan. Hal tersebut mengingat beberapa kelebihan yaitu harganya yang relatif murah, bentuk siripnya yang indah melambai-lambai, kepalanya menyerupai singa, tubuhnya yang dilapisi aneka warna dengan gerakannya yang semampai telah menciptakan pesona tersendiri.
Maskoki (Carrasius carrasius var auratus) aslinya berasal dari negeri Cina. Kini telah tersebar di Indonesia, menghiasi setiap rumah yang mendambakan kesejukan dan kedamaian. Tanda-tanda ikan betina yang sudah matang yaitu bagian perut agak membengkak dan bentuk dubur besar dan bulat. Sedangkan untuk ikan jantan terdapat benjolan kecil berwarna putih pada tutup insang atau kadang-kadang pada jari-jari pertama sirip dada serta bentuk dubur oval dan kecil.
Kolam lnduk :
- lnduk jantan dan betina yang telah berumur 2-4 tahun ditempatkan secara terpisah dalam bak yang cukup mendapat sinar matahari.
- Ukuran bak 2 x 2 x 0,6 meter yang dilengkapi saluran pengeluaran air.
- Air berasal dari air tanah yang telah diendapkan atau ledeng yang kaporitnya telah dinetralisasi. Hindarkan menggunakan air sungai atau air selokan yang sering mengandung bibit penyakit.
- Untuk menghilangkan kadar kaporit pada air ledeng, tambahkan 1 sendok makan sodium theosulfat per 200 liter air.
- Beri pakan alami cacing rambut atau pakan buatan dengan kadar protein minimal 15%.
Pemijahan :
- Bak pemijahan dijemur sampai dasamya kering.
- Masukkan air setinggi 25 cm. Jalankan aerator dan pasang termostat untuk mengendalikan suhu air.
- Masukkan ke kakaban atau tanaman air yang mengapung sebanyak 1/3 luas permukaan.
- Upayakan suhu air 23-27° C, pH 7,2 – 7,5, O2 terlarut 5 ppm kesadahan 1 air 50-200 dH (1 dH = 7,1 ppm).
- Menjelang magrib, pasangan mas koki di masukkan ke dalam bak dengan perbandingan betina : jantan
= 1:3. - lkan akan kawin pada malam hari menjelang subuh.
- Esok harinya akan terlihat telur-telur dengan diameter 0,7 -1,5 mm menempel di kakaban.
- Hindarkan telur-telur dari curahan air hujan atau sengatan matahari langsung.
- Biarkan telur sampai menetas.
- I nduk -induk ikan diambil dan ditempatkan di kolam induk kembali.
- Tingkatkan aerasi dalam bak pemijahan.
- Sebagian air diganti dengan cara menyipon.
- Untuk menghindari tumbuhnya jamur, teteskan Malachit Green 1 ppm (1 mg untuk 1000 liter air). Setelah 15 menit air dibuang dan diganti dengan air yang baru.
- T elur akan menetas dalam waktu 2 hari pada suhu 27°C menjadi larva dengan ukuran 5 mm.
- Setelah berumur 2-3 hari berikan makanan berupa jasad renik (moina, dapnia, infusria, rotifera), cacing rambut atau makanan buatan.
- Lakukan seleksi setelah berumur 2 minggu, 3 minggu dan 2-3 buian.
- lkan-ikan yang harus dibuang adalah yang ekornya seperti karper atau tidak punya sirip ekor, siripnya rusak atau warnanya kurang indah.
Pemeliharaan di akuarium :
- Ukuran akuarium yang ideal untuk rumah tangga adalah 90 x 30 x 38 cm.
- Maskoki berkembang biak pada temperatur tropis, tapi warna yang paling cemerlang pada temperatur 18-21° C (daerah sub tropis).
- PH air diusahakan 6,5 – 7
- Hindarkan pH 8 atau lebih karena membuat warnanya menjadi pucat
- Bubuhkan pembunuh spora lumut, seperti Physan
- Berikan makan cukup sehari sekali dengan pakan alami atau pakan buatan. Kandungan vitamin A dalam pakan harus cukup untuk mencemerlangkan warna
- Gunakan lampu neon 10 watt untuk akuarium dengan panjang 30 cm, dan 20 watt untuk yang 60 cm. Jangan menggunakan lampu pijar karena dapat menaikkan suhu air
- Lampu dinyalakan cukup 10 – 15 jam sehari
- Gunakan aerator untuk supply oksigen, perputaran air, menguapkan gas-gas beracun, menetralkan suhu dan memperindah pemandangan
- Ganti air seminggu sekali sebanyak 1/4 – 1/3 bagian dengan cara menyipon.
- Gunakan filter untuk membersihkan kotoran yang melayang dalam air
- Untuk menghilangkan kotoran yang menempel di kaca seperti lumut, gunakan penghapus bermagnet
- Pilihlah Maskoki yang ukurannya seragam dan jangan dicampur ikan lain yang “nakal”
- Berikan tanaman air Sagitaria natans, Vallisneria spiralis, Eleocharis acicularis atau gambar tanaman sebagai latar belakang
- Tempatkan akuarium yang bebas dari lalu lintas orang, tidak terkena matahari, dekat stop kontak dan posisiyang enak dipandang
Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
Categories: Uncategorized
Teknik Pembenihan Ikan Papuyu (Anabas testudineus Bloch)
April 28, 2008 · 7 Comments
26/06/03 – Informasi: Teknologi
Teknik Pembenihan Ikan Papuyu (Anabas testudineus Bloch)
PENDAHULUAN
Ikan Papuyu merupakan ikan lokal air tawar yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan digemari oleh masyarakat Kalimantan terutama masyarakat Kalimantan Selatan, tetapi belum banyak dibudidayakan. Untuk itu diperlukan usaha pembenihan guna kontinuitas suplai benih yang memenuhi syarat kualitas dan kuantitasnva.
Usaha pembenihan bertujuan untuk menghasilkan benih dalam jumlah besar, sehingga tidak tergantung pada ketersediaan di alam yang pada akhirnya dapat menunjang kegiatan usaha pembesaran dan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani ikan sekaligusdapat menunjang peningkatan produksi budidayanya. Juga turut serta dalam upaya pelestarian plasma nuftah pada umumnya dan khususnya ikan Papuyu.
BIOLOGI IKAN PAPUYU
Sistematika menurut Hasannudin Saanin (1984) sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Labytinthichi
Famili : Anabantidae
Genus : Anabas
Species : Anabas testudineus Bloch
Nama Daerah : Betik Jawa dan Sunda, Papuyu (Banjarmasin), Puyu (Malaya) dan Kalimantan Timur, Geteh-geteh (Manado).
Nama Umum : Walking Fish atau Climbing Perch.
PEMBENIHAN
Tahapan kegiatan pembenihan ikan Papuyu meliputi seleksi induk. pemijahan. penetasan telur dan pemeliharan larva.
1. Seleksi Induk
a. Ciri-ciri induk jantan dan betina
Betina :
- Tubuh gemuk dan lebar kesamping,
- Warna badan agak gelap,
- Sirip punggung lebih pendek,
- Bagian bawah perut agak melengkung,
- Jika matang gonad pada bagian perut diurut akan keluar telur,
- Alat kelamin berwarna kemerah-merahan.
Jantan :
- Tubuh ramping dan panjang,
- Warna badan agak cerah,
- Sirip punggung lebih panjang,
- Bagian bawah perut rata,
- Jika perut diurut akan keluar cairan sperma berwarna putih susu.
b. Beberapa persyaratan induk
- Ukuran induk betina yang ideal diatas 90 gram dan jantan diatas 30 gram,
- Badan terlihat segar (tidak cacat) dan gerakannva lincah,
- Mampu menghasilkan telur dalam jumlah cukup banyak,
- Umur induk lebih dari 10 bulan,
- Pertumbuhannya cepat.
2. Pemijahan
a. Bahan dan alat
- Induk ikan papuyu yang matang gonad
- Ovaprim
- Aquabidest
- Akuarium ukuran 60 x 40 x 45 cm
- Alat suntik
- Alat aerasi (Hi-Blow/Aerator)
- Baskom, serok senter dan timbangan
b. Perlakuan
Ikan Papuyu memijah sepanjang musim penghujan, pada saat musimnya mampu memijah 2 – 3 kali dengan jumlah telur (fekunditas) 5.000 – 15.000 butir. Pemijahan dilakukan dengan induced breeding (kawin suntik) menggunakan hormon ovaprim, dosis penyuntikan 0,5 cc/kg induk. Perbandingan 1: 1 (dalam berat). Pemijahan dapat dilakukan di akuarium atau fibre glass. Penyuntikan secara intramuscular pada otot punggung induk. Induk betina 2 kali penyuntikan dan induk jantan 1 kali penyuntikan. Interval waktu penyuntikan I ke penyuntikan II adalah 6 jam. Penyuntikan induk jantan bersamaan pada saat penyuntikan II induk betina. Proses terjadinya ovulasi tanpa dilakukan stripping (pemijahan secara alami).
3. Penetasan Telur
Setelah penyuntikan II induk betina, maka ovulasi akan terjadi 5 jam berikutnya. Telur akan menetas dalam waktu 20 – 24 jam pada suhu 260C atau akan menetas dalam waktu 12 jam pada suhu 300C. Prosentase dari telur yang dibuahi sekitar 95% dengan daya tetas (HR) 95%. Penetasan telur bisa langsung di akuarium atau langsung ke tempat Pendederan I jika sudah siap.
4. Pemeliharaan Larva
Larva yang baru menetas tidak perlu diberi makanan tambahan sebab masih mempunyal cadangan makanan dari kantong kuning telur (yolk egg).Setelah larva berumur 4 hari diberi makanan tambahan berupa suspense kuning telur. Frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari (pagi, siang dan sore) selama 10 hari. Setelah itu bisa diberikan makanan pellet yang dihaluskan. Masa kritis larva terjadi pada saat hari ke-7 sampai hari ke-14. Pendederan larva dilakukan di kolam semi permanen, dimana kolam tersebut terlebih dahulu dilakukan pengolahan lahan dengan diberi dosis pupuk dan kapur sesuai anjuran.
Pemeliharaan ini selama 45 hari dengan padat tebar 50 ekor/m . Selama masa pemeliharaan 45 hari benih ikan diberi pakan tambahan berupa pellet yang dihancurkan sebanyak 10 – 20% per hari dengan frekuensi pemberian 2 kali/hari. Umur 45 hari sudah mencapai benih ukuran 1 – 3 cm, dan benih bisa dipanen untuk di tebar ke kolam pendederan berikutnya.
Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
Categories: Uncategorized
Budidaya Ikan Severum
April 28, 2008 · Leave a Comment
| [ kembali ] | |
|
Categories: Uncategorized
Budidaya Manvis
April 28, 2008 · Leave a Comment
Manvis dikenal juga sebagai Angelfish, merupakan salah satu ikan hias yang sangat digemari oleh masyarakat. Ikan ini bukan asli Indonesia, berasal dari perairan sungai Amazona di Amerika Selatan. Manvis mempunyai bentuk dan warna tubuh serta gerak gerik yang sangat indah dan menarik, dan sangat cocok untuk dipelihara di akuarium ebagai pajangan. Keindahannya dapat memeberi kesan tersendiri bagi yang memandangnya. Penggemarnya banyak dan harganya relatif tinggi. Budidaya Manvis di Indonesia telah berkembang dengan pesat baik sebagai kesenagan maupun usaha komersial.
Tempat Hidup
Secara alami Manvis hidup diperairan yang tenang dan banyak tanamannya. Oleh karena itu bila Manvis dipelihara didalam akuarium yang terlalu terang dan banyak ikannya, kelihatan gelisah. Cocok sekali bila dipelihara dalam akuarium bersama jenis ikan yang garaknya lamban
Manvis sangat sayang terhadap anaknya. Ia dengan cepat melindungi anaknya bila ada gangguan dari luar dengan jalan menyimpan didalam mulutnya. Sifat seperti kurang menguntungkan pada saat pemijahan, karena itu tempatnya harus benar-benar aman. Dalam usaha budidaya, biasanya peternakan Manvis di DKI Jakarta menggunakan kolam yang terbuat dari semen.
Cara Pemijahan
Untuk memijahkan Manvis hndaknya digunakan induk yang benar-benar sudah dewasa dan matang telur, agar bisa didapatkan anakan yang bagus dan sehat. Ini akan memudahkan dlam pemeliharaan selanjutnya. Manvis siap memijah setelah beumur 9-12 bulan. Setiap kali memijah dapat menghasilkan 300-400 anak.
Pemilihan induk:
Jenis kelamin Manvis dapat dibedakan dengan melihat bentuk dari bagian-bagiannya:
a. Induk jantan
- Pada umur yang sama, ukuran lebih besar dari induk betina
- JIka dipndang dari atas, perut kelihatan ramping
- Kepala agak besar, bagian antara mulut dan punggung berbentuk garis cembung
b. Induk betina
- Ukuran relatif lebih kecil dari induk jantan
- Perut agak membesar dan menonjol
- Kepala agak kcil dan bagian antara sirip punggung dan kepala membentuk garis lurus
Tempat Pemijahan
Ada beberapa tempat yang harus digunakan antara lain kolan dan akuarium
1. Kolam
- Kolam dibuat dari tanah biasa atau dari semen, berukuran 1 meter persegi dengan kedalaman 80 cm
- Kolam yang masih baru tidak boleh langsung digunakan, bau semennya harus dihilangkan terlebih dahulu, dengan cara direndam dengan air selama beberapa hari. Untuk lebih cepatnya dapat ditambahkan pelepah pohon pisang
- Setelah bau semen hilang, direndam lagi dengan air biasa selama 4 hari, selanjutnya dibersihkan lagi dan dikeringkan
- Pada saat akan dipakai, kolam diisi dengan air tawar sampai kedalaman 30-60 cm
- Bila kolam pemijahan terletak di tempat terbuka perlu diberi tanaman air, misalnya enceng gondok untuk memberi suasana teduh dan tenan
2. Akuarium
- Akuarium yang digunakan berukuran sedang yaitu panjang 100 cm, lebar 75 cm dan tinggi 50 cm, dengan tebal kaca 5-6 mm
- Sebelum digunakan akuarium dibersihkan terlebih dahulu. Kemudian diisi air dengan ketinggian 30-40 cm
- Didalam akuarium diberi pecahan genteng untuk memberi bau air yang alami
- Selanjutnya induk yang telah dipilih dapat dipijahkan secara berpasanagan
Seperti ikan Chiclid lainnya, Manvis menempelkan telurnya yangtelah dibuahi pada suatu benda. Oleh karena itu tempat pemijahan harus diberi potongan paralon atau benda lain yang permukaannya halus sebagai tempat menempelnya telur.
Air yang digunakan harus jernih dengan keasaman normal (pH antara 6,8-8,2) dan suhunya antara 24-26oC. Air yang berasal dari PAM atau sumur hendaknya diendapkan terlebih dahulu selama lebih kurang 24 jam. Saat pemijahan Manvis memerlukan tempat yang gelap, oleh karena itu perlu diberi tanaman yang mengapung, misalnya enceg gondok. Bila menggunakan akuarium dindingnya tertutup dengan kertas warna gelap.
Pemijahan
Manvis memijah pada malam hari ketika suasana tenang dan sepi. Telur yang telah dibuahi menempel pada tempat yang telah sediakan. Setelah memijah induknya secara bergantian menjaga telurnya dengan mengibaskan ekornya untuk menambah Oksigen.
Telur tersebut menetas 24-36 jam dari saat dibuahi pada suhu optimal, antara 27-31o C. Burayak sudah tumbuh sirip pada umur 40-60 jam. Pada masa seperti ini makanannya masih berupa egg sach (kuning telur) dan belum memerlukan pakan tambahan
Pembesaran
Pembesaran Manvis dilakukan didalam kolam yang berukuran antara 3-4 m2 dengan kedalaman air 30 cm. Kepadatan ikan antara 150-200 ekor setiap kolam atau disesuaikan menurut ukurannya, semakin besar semakin jarang. Untuk memberikan suasana teduh dan tenang, kolam diberi peneduh tanaman enceng gondok, anyaman bambu, atau seng. Makanan yang diberikan disesuaikan dengan ukuran tubuh dan umurnya. Pada minggu pertama biasanya masih diberikan rotifera, setelah agak besar diberi kutu air yang disaring, selanjutnya tanpa disaring dan akhirnya dapat diberi cacing sutera. Setelah pencapaian dewasa dapat diberi pakan buatan (pellet) yang diberikan secara bergantian.dengan cacing sutera.
Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
Categories: Uncategorized
Budidaya Ikan Jelawat
April 28, 2008 · Leave a Comment
01/09/03 – Informasi: Teknologi
Budidaya Ikan Jelawat
Ikan Jelawat (Leptobarbus hoeveni) ikan asli Indonesia terdapat dibeberapa sungai di Sumatra dan Kalimantan. Merupakan jenis ikan ekonomis penting sangat digemari masyarakat Indonesia bahkan beberapa negara tetangga. Termasuk komoditas ekspor potensial.
Meskipun pemeliharaan ikan jelawat sudah lama dilakukan namun pasokan benih sepenuhnya masih mengandalkan hasil penangkapan dari perairan umum yang dilakukan pada musim hujan. Jenis ikan ini berbiak di sungai pada permulaan musin hujan, dengan anak benih tersedia secara musiman. Kaena pasar benih hanya mengandalkan hasil penangkapan di perairan umum maka kurang terjamin kontinuitasnya sehingga budidaya ikan ini akan terganggu.
Melihat aspek kebutuhan benih yang masih mengandalkan alam maka penguasaan teknologi pembenihan jeni ikan ini merupakan upaya yang pelu diaktifkan. dan ini merupakan peluang usaha yang dapat menghasilkan keuntungan yang besar.
Pembenihan Ikan Jelawat (Leptobarbus hoeveni)
Metode dan Cara
Pematangan Gonad
Induk dipelihara dalam kolam khusus berukuran 500-700 m2 penebaran 0,1-0,25 kg/m2 Selama pemeliharaan, induk ikan dibi pakan pelet dengan kandungan protein 25-28% Pakan diberikan sebanyak 3 % dari berat badan dengan frekwensi 2-3 per hari Selain pelet diberikan juga pakan berupa hijauan seperti daun singkong secukupnya Lama pemeliharaan induk lebih kurang 8 bulan Induk yang siap pijah diperoleh dengan cara seleksiPemijahan
Pemijahan jelawat dapat dilakukan scara alami dan buatan. Dalam paket teknologi ini dilakukan pemijahan buatan.
Induk terseleksi perlu diberok selama satu hari Penyuntikan hormon HCG dan kelenjar hipofisa terhadap induk betina dilakukan 2 kali Penyuntikan I (PI) : 1 dosis kelenjar hipofisa ditambah 200 IU HCG per induk betina Penyuntikan II (PII) : 2 dosis kelenjar hipofisa ditambah 300 IU per induk betina Selang waktu antara PI dan PII, 5-6 jam Ovulasi terjadi antara 10-1 jam dari PI Telur dan sperma dikeluarkan dengan cara diurut Pembuahan telur dilakukan dengan mencampurkan sperma dan telur di baskom plastik Jika telur telah mengembang siap untuk disimpan dalam wadah penetasanPenetasan
Padat tebar 400-500 butir telur per liter Selama penetasan air harus dijaga kialitasnya (O2 4-8 ppm; pH 7,0-8,0; T:25-28 derajat C) Pada suhu air 25-28 derajat C telur akan menetas 18-4 jam setekah pembuahanPemeliharaan Larva
Larva dipelihara langsung ditempat penetasan telur Cangkang dan telur yang tidak menetas dibersihkan secara penyiponan Hari ke 3 larva diberikan pakan Naupil Artemia (yang baru menetas) secukupnya Pemberian pakan 3 kali sehari (pagi, siang ,sore) Hari ke 7 setelah menetas benih ikan siap untuk didederkan di kolamPendederan
Persiapan kolam meliputi pengeringan 2-3 hari, perbaikan pematang, pembuatan saluran tengah (kamalir) dan pemupukan dengan pupuk kandung sebanyak 500-700 gr per m2. Kolam diisi air sampai ketinggian 80-100 cm. Pada saluran pemasukan dipasang saringan berupa hapa halus untuk menghindari masuknya ikan liar Benih ditebarkan 3 hari setelah pengisian air kolam dengan padat penebaran 100-150 ekor/m2 Benih ikan diberi pakan berupa tepung hancuran pelet dengan dosis 10-20 % per hari yang mengandung lebih kurang 25% protein Lama pemeliharaan 2-3 minggu Benih yang dihasilkan ukuran 2-3 cm dan siap untuk pendederan lanjutanHak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
Categories: Uncategorized







