Iswadi

Entries from December 2007

Siapa Bilang Jadi Karyawan Tidak Bisa Kaya

December 26, 2007 · 1 Comment

Tulisan ini nemu di internet buagus banget dan lagi ngeterend  saya ambil dari bloghttp://thufail.wordpress.com/2007/08/03/bisa-tidak-jadi-karyawan-kaya/   Tulisan ini merupakan kutipan dari e-book yang di terbitkan salah seorang pakar keuangan ternama di negeri ini, dan di posting secara bertahap. Rahasia Menjadi Kaya … Rahasia Menjadi Kaya Sebagai Seorang Karyawan “Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya?”

“Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya?”

Pertama-tama, mungkin Anda kaget membaca judul Tulisan ini.

Ya, buat saya, memang tidak mudah memberikan pernyataan menantang seperti itu,
apalagi kalau harus saya tulis di sampul Tulisan. Akan tetapi, harus kita akui, beberapa tahun terakhir ini, masyarakat kita seperti dibombarbir pernyataan-pernyataan yang memekakkan telinga seperti ini:

“Jangan mau seumur hidup jadi orang gajian …”

“Mau kaya? Jangan jadi karyawan …”

“Buka Usaha Sendiri adalah kunci menuju kekayaan …”

“Kerja jadi karyawan mah gak akan bisa kaya …”

“Penghasilan gue sih segini-segini aja. Nggak akan pernah bisa gede. Maklum, kuli…”

… dan seterusnya.

Kalau Anda perhatikan, pernyataan-pernyataan tersebut kebanyakan diungkapkan oleh mereka yang ingin memotivasi Anda bahwa kalau mau kaya, Anda harus mempunyai usaha sendiri. Bahkan, bukan satu dua kali saya melihat Tulisan-Tulisan yang membahas pentingnya Anda membuka usaha sendiri kalau ingin kaya.

Saya tidak melihat satu pun karyawan yang mencoba membantah opini itu secara
terang-terangan di ruang publik, baik berupa pemikiran di media cetak, media
elektronik maupun di Tulisan seperti yang akhirnya saya tulis sekarang. Kebanyakan mereka hanya diam, bahkan mungkin setuju dengan penyataan itu.

Nah, repotnya, bagi kebanyakan orang sulit untuk tidak mendapatkan penghasilan
kalau tidak menjadi karyawan. Banyak di antara mereka yang-walaupun memiliki
modal untuk bisa buka usaha-lebih memilih bekerja sebagai karyawan agar bias mendapatkan penghasilan rutin dan tetap. Banyak dari mereka yang memutuskan
menjadi karyawan karena merasa tidak mempunyai bakat-bahkan tidak mempunyai
keinginan-untuk membuka usaha. Menjadi karyawan, bagaimanapun, adalah
keinginan terbesar yang muncul pada sebagian besar orang di perkotaan bila ingin
mendapatkan penghasilan. Bahkan mereka yang lulusan dari perguruan tinggi terkenal pun sering kali tidak ingin menjadi pengusaha; mereka hanya ingin bekerja sebagai karyawan.

Saya tahu ada banyak motivasi yang diberikan orang-orang di sekitar Anda tentang
pentingnya Anda membuka dan menjadi owner dari usaha milik Anda sendiri.
Terhadap keinginan itu, saya hanya ingin mengatakan bahwa kalau Anda memang
mau menjadi pemilik usaha, ya nggak apa-apa. Namun, tidak ada salahnya juga ‘kan
kalau Anda tetap memutuskan untuk menjadi karyawan?

Iya dong. Menjadi karyawan adalah pilihan yang harus dihormati. Logikanya saja
deh, kalau tidak ada orang yang mau jadi karyawan di dunia ini, siapa yang akan
menjalankan bisnis? Tidak ada, kan? Jadi, kalau Anda seorang karyawan, jangan mau terprovokasi tentang tidak perlunya menjadi karyawan lama-lama. Oleh karena,
bagaimanapun, karyawan dan pengusaha adalah mitra yang sama-sama menjalankan
bisnis. Cuma saja, karyawan-tentu saja-memiliki hak yang berbeda dengan si pengusaha. Si pengusaha, yang biasanya pada awalnya juga menjadi pimpinan di perusahaan tersebut, berhak memecat si karyawan, sementara si karyawan tidak berhak memecat bosnya.

Satu lagi, banyak pendapat di luar sana-terutama di kalangan wiraswastawan-yang
sering kali “melecehkan” pekerjaan sebagai karyawan. Pelecehan utamanya adalah
bahwa dengan menjadi karyawan Anda tidak akan pernah bisa kaya.

Huh, kata siapa?

Pertanyaan saya, pernahkah Anda melihat karyawan yang kaya? Jangan bilang tidak
pernah. Saya pernah melihatnya. Bahkan sering. Bukan satu dua kali saya melihat ada banyak karyawan yang bisa hidup makmur, dan tetap menjadi karyawan sampai
pensiun. Sebaliknya, banyak juga di antara karyawan yang kebetulan belum makmur,
kemudian mereka datang ke kantor kami, berkonsultasi, dan setelah itu, dalam
beberapa tahun ia mulai bisa menumpuk kekayaan satu demi satu. Dari sinilah saya
lalu berani mengeluarkan kesimpulan: “Jadi karyawan juga bisa kaya ….”

***

Sebelum memberi tahu bagaimana caranya seorang karyawan bisa mencapai
kekayaan, saya ingin memberi tahu terlebih dahulu tentang kesalahpahaman yang
selama ini terjadi di masyarakat kita. Bahkan, kesalahpahaman ini kadang-kadang
melekat dan tertulis pada kebanyakan Tulisan wirausaha yang sering kali menyarankan orang untuk tidak menjadi karyawan kalau ingin kaya. Apa itu? Yaitu, banyak orang yang menyamakan kata “kaya” dengan “penghasilan tinggi”.

Kalau orang mengatakan bahwa “Jika Anda mau kaya, jangan jadi karyawan”,
maksud sebenarnya adalah bahwa “Kalau Anda mau penghasilan tinggi, ya jangan
jadi karyawan karena penghasilan Anda biasanya terbatas dan dijatah oleh orang lain.

Dengan demikian, kalau menunggu penghasilan Anda tinggi mungkin masih akan
sangat lama.”

Lihat bedanya? “Penghasilan Tinggi” adalah bahwa Anda mendapatkan uang masuk
(cash flow) yang besar setiap bulan, sedangkan “Kaya” adalah seberapa banyak Anda bisa menyisihkan, menyimpan, dan menumpuk aset dari penghasilan yang Anda
dapatkan. Jadi, perbedaannya: kata “Penghasilan Tinggi” berhubungan dengan cash
flow, sementara kata “Kaya” berkaitan dengan seberapa banyak aset yang bisa Anda
dapatkan dari penghasilan tinggi itu.

Nah, masalahnya, dari pengalaman saya, sering kali “penghasilan tinggi” tidak
menjamin Anda bisa “kaya”. Saya sering melihat ada banyak orang yang punya
penghasilan tinggi, bahkan sangat tinggi, entah di kantor atau di bisnisnya, tapi karena dia tidak bisa mengelola uangnya (entah karena boros atau karena nggak pinter (mengelola), dia tidak juga kaya. Sebaliknya, saya sering melihat ada banyak orang yang penghasilannya terbatas, tapi karena dia pintar mengelola, dia bisa hidup kaya dan makmur.
Contohnya, banyak pengusaha-sekali lagi, pengusaha-yang biarpun punya
pemasukan besar dari usahanya, tetapi hidup sangat boros. Akhirnya, ia tidak pernah bisa memiliki aset apa-apa dan tidak pernah bisa “Kaya” karena penghasilannya selalu habis. Sebaliknya, banyak karyawan-sekali lagi, karyawan-yang penghasilannya terbatas, tapi karena dia bisa mengelola penghasilan dengan sangat baik, dia bisa mengembangkan uangnya yang sedikit itu menjadi besar dan akhirnya bisa “kaya”. Di usia tua, dia malah bisa hidup makmur.

Kesimpulannya?

“Karyawan memang memiliki keterbatasan dalam hal penghasilan. Namun, untuk
menjadi kaya, Anda tidak perlu harus menunggu sampai punya penghasilan besar.
Anda tetap bisa kaya berapa pun penghasilan Anda karena kemampuan Anda
mengumpulkan kekayaan tidak dilihat dari berapa besarnya penghasilan, tapi dari
bagaimana Anda mengelola penghasilan itu.”

Mantaaap.

 Bersambung….. ke Eps II

Categories: Blogroll · M0tIv@sI · Uncategorized

Undangan Walimatul ‘Ursy

December 16, 2007 · Leave a Comment

Undangan Walimatul ‘Ursy

  

 

  Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh 

Dengan memohon Rahmat serta Ridho dari Allah SWT, kami bermaksud menyelenggarakan Resepsi Pernikahan putra-putri kami :

NIKMAH TUZUHRO, S.P.d

Putri  Bpk. Mulyono & Ibu Masni

Kebon Kelapa, Hurun,Kec. Padang Cermin, Lampung

dengan 

ISWADI, S.P.i

Putra  Bpk. Sumardi & Ibu Paini

Bagelen, Kec. Gedong Tataan, Lampung

Resepsi I  Insya Allah akan diselenggarakan pada :

Ahad, 30 Desember  2007

Pukul 10.00 s/d selesai

Jl. Way Ratai, Kebon Kelapa HurunKec. Padang Cermin – Pesawaran, Lampung 

Resepsi II  Insya Allah akan diselenggarakan pada :

Ahad, 6 Januari 2008

Pukul 10.00 s/d selesai

Jl. Suhada, Desa BagelenKec. Gedung Tataan – PesawaranLampung  

Merupakan kebahagiaan bagi kami  apabila Bapak / Ibu / Saudara/i berkenan hadir untuk memberikan do’a restu kepada putra-putri kami. Atas kehadirannya, kami ucapkan Terima Kasih.

Wassalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh 

Kel. Bp. Mulyono                                              Kel. Bp. Sumardi

Nikmah & Iswadi

***

Akad Nikah

Ahad, 30 Desember 2007

Pukul 08.00 WIB

Jl. Way Ratai, Kebon Kelapa Hurun

Kec. Padang Cermin – PesawaranLampung   

Doa Rasulullah Saw Pada Pernikahan Fatimah Dan Ali

“Semoga Allah Menghimpun Yang Terserak Dari Keduanya Dan Kiranya Allah Memberkati Dan Memberi Mereka Berdua Keturunan Yang Lebih Baik, Menjadikannya Pembuka Pintu Rahmat, Sumber Ilmu Dan Hikmah, Serta Pemberi Rasa Aman Bagi Umat.”

Do’a untuk Pengantin Baru
“Barakallahu laka wa baraka ‘alaik, wa jama’a bainakuma fi khair”
Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang mahupun susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan”
(HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibn Majjah
 

“Dan Di Antara Tanda-Tanda Kekuasaan-Nya Ialah Dia Menciptakan Untukmu Istri-Istri Dari Jenismu Sendiri, Supaya Kamu Cenderung Dan Merasa Tentram Kepadanya, Dan Dijadikan-Nya Di Antaramu Rasa Kasih Dan Sayang. Sesungguhnya Pada Yang Demikian Itu Benar-Benar Terdapat Tanda-Tanda Bagi Kaum Yang Berpikir.” (Q.S. Ar-Ruum 21)

Mohon Do’a & Restu semoga kami menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, yang selalu saling melengkapi, saling menasihati dan saling memperbaiki dalam menggapai Ridho Ilahi.. Nikmah & Iswadi

Categories: Blogroll · Uncategorized

ARTIKEL pasangan hidup

December 16, 2007 · 1 Comment

Categories: Uncategorized

Teknik Produksi IKan Cupang Jantan

December 16, 2007 · 5 Comments

 
  TEKNIK MEMPRODUKSI IKAN BETTA JANTAN 1. PENDAHULUAN Ikan Betta atau dengan sebutan populer ikan cupang (Betta Splendens) merupakan salah satu ikan hias yang mempunyai nilai komersial, baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar ekspor. Sebagai ikan hias yang gemar berantem, mempunyai penampilan yang menarik yaitu mempunyai sirip yang relatif panjang dengan spektrum warna yang bagus sedangkan pada ikan betta betina penampilannya kurang menarik, karena siripnya tidak panjang dan warnanya pun tidak cerah sehingga pada ikan betta, jenis kelamin jantan lebih tinggi dibanding jenis kelamin betina. Dengan dasarnya itulah diperlukan upaya memperbanyak produksi ikan Betta jantan, yang dapat dilakukan secara masal. 2. Teknik Pemijahan dan Produksi

Pada induk jantan yang matang gonad warna siripnya lebih cerah sedang pada induk betina perutnya membuncit dan secara transparan, telur pada saluran pengeluaran dapat terlihat. Pada prinsipnya pemijahan dilakukan secara berpasangan dalam setiap wadah yang terpisah (akuarium, ember atau dalam kotak-kotak yang ditempatkan didalam bak). Sebelum dicampurkan induk betina dimasukkan dalam botol agar tidak mengganggu jantan dalam membuat sarang busa. Sarang dibuat dengan cara mengambil gelembung udara dari permukaan dan melepaskannya ke bawah permukaan daun atau tanaman air yang mengapung dipermukaan air. Proses ini berlanjut berjam-jam dengan sesekali berhenti untuk makan. Bila sarang telah siap, induk betina dikeluarkan dari botol, dicampurkan dengan jantan agar dapat memulai pemijahan. Pada saat pemijahan tubuh jantan menyelubungi induk betina membentuk huruf ” U ” dengan ventral saling berdekatan selama + 1 menit sampai mengeluarkan telur yang segera dibuahi sperma. Telur perlahan tenggelam dan akan segera diambil oleh induk jantan dengan mulutnya untuk selanjutnya diletakkan disarang busa. Proses pemijahan berlangsung selama + 1 jam dengan 20-25 tahap pemijahan yang sama. Ketika aktifitas pemijahan berakhir, induk betina dipindahkan dari tempat pemijahan untuk dikembalikan ke tempat pemeliharaan induk, namun sebaiknya lebih dulu dimasukkan dalam larutan metyline blue 2 mg/liter selama 24 jam untuk mengobati luka yang mungkin ada setelah pemijahan. Sedang induk jantan tetap pada wadah pemijahan untuk merawat dan menjaga telur sampai menetas. Dalam setiap kali pemijahan diperoleh telur sebanyak 1000-1500 butir. Selanjutnya pemeliharaan larva dan pendederan serta pembesaran dapat dilakukan pada wadah berupa bak tembok dengan pakan berupa cacing Tubifex sp. atau Chironomus sp. untuk siap dipasarkan. 3. Teknik Memperbanyak Ikan Betta Jantan Ikan betta jantan mempunyai warna yang lebih cerah dan sirip-sirip yang lebih panjang dibanding ikan betta yang betina. Oleh karena itu ikan betta jantan lebih diminati konsumen dan mempunyai nilai komersial yang lebih tinggi dibanding yang betina. Sehubungan dengan itu perlu dilakukan teknik memperbanyak produksi ikan betta jantan dalam setiap kali pemijahan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian hormon androgen pada masa diferensiasi kelamin. Teknik pemberian hormon tersebut adalah dengan cara meremdam telur ikan betta pada fase bintik mata ( + 30 jam setelah pemijahan ) kedalam larutan hormon 17 Alpa metiltestosteron dengan konsentrasi 20 mg/liter air selama 8 jam. Pembuatan larutan hormon tersebut adalah dengan cara melarutkan hormon sebanyak 20 mg ke dalam 1 ml alkohol 70 % dan selanjutnya dimasukan keair yang akan dipakai merendam sebanyak 1 liter. Telur hasil perendaman dimasukkan kembali kedalam wadah yang berisi air dengan diberi larutan metyline blue untuk mencegah timbulnya jamur dalam proses penetasan. Tahap selanjutnya sama dengan prosedur pembenihan ikan betta sampai berumur tiga bulan untuk dapat dibedakan jenis kelaminnya. Diharapkan dengan pemberian hormon steroid tersebut dapat memperbanyak ikan betta jantan sampai dengan 95 % dalam setiap pemijahan.

sumber http://bbat-sukabumi.tripod.com/

Categories: Blogroll · IKAN HIAS · Uncategorized

Pembenihan Ikan Corydoras

December 16, 2007 · Leave a Comment

PEMBENIHAN IKAN HIAS CORYDORAS 
 

1. Pendahuluan Corydoras merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang banyak diminati pecinta ikan hias dan mempunyai peluang ekspor. Selain digunakan sebagai ikan hias air tawar, juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kosmetik di negara maju. Walaupun ikan ini berasal dari Amerika Selatan, tetapi sejak lama telah berhasil dibudidayakan di Indonesia. Ikan ini dikenal mudah pembudidayaannya.

2. Ciri Morfologi

Bentuk tubuh pendek dan gemuk, punggung lebih melengkung dibandingkan dengan perut, kedua sisi ikan dilengkapi dengan lempengan seperti tulang yang tersusun dalam dua baris, mempunyai dua pasang kumis yang terletak di rahang atas dan rahang bawah serta ukuran tubuh dapat mencapai 12 cm. Ikan Corydoras dapat dibudidayakan di kolam yang kandungan oksigen di dalam airnya rendah. Kondisi lingkungan cocok untuk jenis ikan ini adalah: pH 6-8, suhu 21.5-28 O C.

3. Prasarana dan Sarana Dalam pemeliharaan ikan Corydoras diperlukan sarana berupa bahan dan alat, yaitu : a. Induk ikan Corydoras betina dan jantan

b. Wadah pemeliharaan berupa : ~ Bak pemeliharaan induk jantan dan betina secara masal, sekaligus sebagai tempat pemijahan, atau akuarium yang berukuran 60×40x40 cm. ~ Bak pemeliharaan larva dan benih secara masal c. Pakan ~ Pakan induk berupa cacing tubifex atau Chironomous serta jentik nyamuk. ~ Pakan larva berupa nauplii artemia ~ Pakan untuk pembesaran ikan Corydoras hingga siap dipasarkan adalah cacing tubifex 4. Kegiatan Operasional 4.1 Pemeliharaan Induk Ikan Corydoras mulai dapat dipijahkan minimal pada umur delapan bulan. Pakan yang terbaik diberikan pada masa pemeliharaan induk adalah pakan yang banyak mengandung zat chitin seperti larva nyamuk yang baik untuk perkembangan telur. Selain itu karena Corydoras bersifat ‘bottom feeder’ maka ikan ini lebih responsif pada jenis makanan seperti cacing tubifex atau chironomus. Cara termudah untuk membedakan jenis kelamin adalah dengan melihat bentuk tubuh. Ikan jantan mempunyai bentuk tubuh seperti terpedo, bagian dari belakang insang meruncing hingga ke ekor. Tubuh lebih langsing dan ukurannya lebih kecil daripada betina, dan sirip dorsal ikan jantan terlihat lebih runcing. Tubuh ikan betina berukuran lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan, dan perutnya yang tampak membundar berisi telur. 4.2. Pemijahan Pemijahan dilakukan secara masal di bak semen, bak fiber atau akuarium dengan perbandingan induk betina : jantan l : 2 atau 1:1. Penggantian air dilakukan setiap hari, untuk menjaga kualitas air media pemijahan. Corydoras mempunyai tipe bertelur dengan menempelkan telurnya pada suatu substrat yaitu : lempengan kaca, potongan paralon (PVC), ubin keramik atau lempengan batu. Ikan Corydoras mengeluarkan telurnya secara parsial, sehingga setiap hari dapat ditemukan substrat yang ditempeli telur. Setiap induk mampu menghasilkan 200-350 butir telur. Selanjutnya substrat yang dipasang diambil untuk ditetaskan pada wadah penetasan telur. 4.3. Penetasan telur Telur yang menempel pada substrat selanjutnya ditetaskan di dalam akuarium . Telur akan menetas dalam waktu enam hari. Selama penetasan telur, media pemeliharaan diberi obat anti jamur antara lain methylene blue 0.1 ppm. Derajat penetasan telur berkisar 60-70%. Larva ikan Corydoras dipelihara di akuarium tersebut sampai berumur tujuh hari dengan pemberian pakan berupa nauplius artemia. 4.4. Tahap Pemeliharaan Pemeliharaan dilakukan pada wadah berupa fiber glass atau bak semen sampai ukuran S (Small=kecil) dengan padat penebaran 20-30 ekor/liter. Selama satu Bulan mencapai ukuran M (Medium=sedang) yaitu dengan padat penebaran 10-15/liter dan siap untuk dipasarkan.

Pemeliharaan selanjutnya lebih diarahkan ke pengadaan calon induk, karena biasanya pada ukuran L (Large=besar) permintaan pasar cenderung menurun. Padat penebaran pada masa pemeliharaan dari ukuran M ke ukuran L adalah 5 ekor/liter. Pakan yang diberikan selama pemeliharaan ikan sampai siap dipasarkan berupa cacing tubifex. 4.5. Pengelolaan Kesehatan Ikan Beberapa jenis parasit yang sering menyerang ikan Corydoras ini adalah : Trichodina sp, Epistylis, Glossatella sp dan Chillodonella sp. Sedangkan bakteri yang menyerang biasanya merupakan infeksi sekunder yang terjadi akibat luka karena penanganan, atau serangan parasit yang mengakibatkan terjadinya luka. Jenis bakteri yang ditemukan adalah Aeromonas hydrophilla. Pengobatan yang dilakukan untuk penyakit parasit adalah menggunakan formalin 25 ppm, garam 500 ppm. Sedangkan untuk penyakit bakterial menggunakan Oxytetracycline 10 ppm dengan cara perendaman.

 
   

sumber : http://bbat-sukabumi.tripod.com/

Categories: Blogroll · IKAN HIAS · Uncategorized

Pembenihan Ikan Black Ghost

December 16, 2007 · 3 Comments

PEMBENIHAN IKAN HIAS BLACK GHOST  

 

  I.          PENDAHULUAN Ikan Black Ghost ( Afteronotus albifrons, Linneaus ) merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai peluang bisnis yang potensial. Ikan jenis ini belum banyak dikenal oleh masyarakat tetapi saat ini beberapa pengusaha ikan hias memproduksi benih sebagai komoditas lokal maupun ekspor. ” Black Ghost ” berasal dari sungai Amazon, Amerika Selatan merupakan ikan pendamai, yang ukurannya dapat mencapai 50 cm, tubuhnya memanjang dan pipih dengan warna tubuh hitam. Ikan ini digolongkan kedalam ikan pisau (Knifefishes), karena secara keseluruhan bentuk tubuhnya menyerupai pisau melebar dari bagian kepala dan badan kemudian melancip dibagian perut. Persyaratan kualitas air media yang dikehendaki ikan Black Ghost yaitu ‘ Soft ‘ ( lunak ) dan cenderung asam, walaupun demikian ‘ Black Ghost ‘ relatif dapat hidup pada kondisi air yang bervariasi. Black Ghost juga memilih makanan jenis tertentu, dapat memakan pakan kering, beku maupun makanan hidup, walaupun demikian lebih suka jika diberi pakan cacing rambut.   II. KEBUTUHAN SARANA DAN PRASARANA Sarana dan bahan yang diperlukan untuk memproduksi ikan ” Black Ghost ” adalah : 1. Wadah pemeliharaan & perlengkapan ~ Akuarium ukuran ( 40 x 40 x 80 ) cm sebagai tempat pemeliharaan induk dan sekaligus tempat pemijahan dilengkapi dengan tempat penempelan telur berupa baki plastik yang diisi dengan batu, atau batang pohon pakis. ~ Akuarium ukuran ( 60 x 40 x 40 ) cm sebagai tempat penetasan telur. ~ Instalasi aerasi berupa blower, selang aerasi dan batu aerasi. ~ Peralatan lain seperti selang untuk mengganti air, soope net dan alat-alat pembersih akuarium (sikat,dll) 2. Pakan ~ ‘Blood worm’ yang digunakan sebagai pakan induk. ~ Cacing rambut yang digunakan sebagai pakan ikan mulai umur + 2 minggu sampai dewasa. ~ Artemia, yang digunakan untuk pakan larva.   III. Kegiatan Operasional 1. Pembenihan Kegiatan pembenihan meliputi pemeliharaan induk dan calon induk, pemijahan serta perawatan larva.

1.1. Pemeliharaan Induk

Perbedaan jantan dan betina ikan dewasa terutama dapat dilihat dari panjang dagunya (jarak antara ujung mulut dengan tutup insang). Pada ikan jantan, dagunya relatif lebih panjang dibandingkan dengan ikan betina. Ikan jantan relatif lebih langsing dibandingkan dengan ikan betina yang mempunyai bentuk perut yang gendut. Pada induk jantan dewasa, terdapat cairan putih (sperma) apabila diurut bagian perutnya. Induk Black Ghost dapat matang telur setelah berumur sekitar satu tahun dengan panjang + 15 cm.

Induk betina dan jantan dipelihara dalam satu wadah berupa akuarium berukuran ( 80 x 40 x 50 ) cm, yang dilengkapi dengan instalasi aerasi dengan pakan berupa ‘Blood Warm’ yang diberikan dengan frekuensi 3 kali/hari secara (ad libitum). Pergantian air harus dilakukan setiap hari untuk membuang kotoran-kotoran yang terdapat di dasar akuarium dan menjaga kualitas media pemeliharaan. 1.2. Pemijahan Pemijahan dilakukan secara masal di dalam akuarium yang sekaligus sebagai tempat pemeliharaan induk. Perbandingan induk betina dan jantan adalah 2 : 1. Pada wadah pemijahan tersebut, ditempatkan baki plastik berukuran ( 30×20x7 )cm yang diisi dengan batu sebagai tempat penempelan telur dan pada bagian tengah baki ditutup dengan baki berlubang (20×15x10) cm untuk melindungi telur dari pemangsaan induknya sendiri. Untuk akuarium ukuran (80 x 60 x 50 ) cm dapat dipelihara 10 ekor induk betina dan paling sedikit 5 ekor jantan. Lingkungan tempat pemeliharaan dan pemijahan ikan Black Ghost biasanya dibuat relatif gelap, dan ikan ini memijah pada malam hari. Menjelang terbit matahari, tempat penempelan telur berupa baki harus segera diambil dan dipindahkan ke tempat penetasan, untuk menghindari pemangsaan telur tersebut oleh induknya. Telur yang dipanen dari baki pemijahan + 200 butir/hari. 1.3. Penetasan telur dan perawatan larva Penetasan telur dilakukan di akuarium, dan akan menetas pada hari ketiga. Makanan berupa naupli artemia mulai diberikan pada hari ke-10 setelah penetasan dan selanjutnya diberi cacing rambut secara ad libitum. 1.4. Pendederan dan Pembesaran Kegiatan pendederan dilakukan setelah larva dapat memakan cacing rambut, yaitu + berumur 2 minggu, sampai ikan mencapai ukuran + 1 inchi dengan lama pemeliharaan 1 – 15 bulan sedangkan kegiatan pembesaran ikan Black Ghost dilakukan untuk mencapai ukuran komersial, yaitu 2-3 inchi. Wadah yang digunakan dapat berupa akuarium atau bak dengan padat tebar 2 – 5 ekor / l. Pakan yang diberikan selama pemeliharaan adalah cacing rambut secara ad libitum. Ikan Black Ghost dengan ukuran 2 inchi dapat dicapai dalam waktu dua bulan. Sedangkan ukuran 3 inchi dapat dicapai dengan menambah waktu pemeliharaan selama tiga minggu. Penyiphonan untuk membuang kotoran harus dilakukan setiap hari agar kualitas media tetap terjaga.

 
     

sumber : http://bbat-sukabumi.tripod.com/

Categories: Blogroll · IKAN HIAS · Uncategorized

Pembenihan Ikan GUrami

December 16, 2007 · 1 Comment

PEMBENIHAN IKAN GURAMI

     

 

Ikan gurami merupakan ikan asli perairan Indonesia yang sudah menyebar ke wilayah Asia Tenggara dan Cina.  Merupakan salah satu ikan labirinth dan secara taksonomi termasuk famili Osphronemidae. 

Ikan gurami adalah salah satu komoditas yang banyak dikembangkan oleh para petani hal ini dikarenakan permintaan pasar cukup tinggi, pemeliharaan mudah serta harga yang relatif stabil.  1.     SISTEMATIKA Filum        : Chordata Kelas       : Actinopterygii Ordo        : Perciformes Subordo     : Belontiidae Famili       : Osphronemidae Genus       : Osphronemus Spesies     : Osphronemus gouramy, Lac.

Secara morfologi, ikan ini memiliki garis lateral tunggal, lengkap dan tidak terputus, bersisik stenoid serta memiliki gigi pada rahang bawah.  Sirip ekor membulat. Jari-jari lemah pertama sirip perut merupakan benang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba.  Tinggi badan 2,0-2,1 kali dari panjang standar.  Pada ikan muda terdapat garis-garis tegak berwarna hitam berjumlah 8 sampai dengan 10 buah dan pada daerah pangkal ekor terdapat titik hitam bulat.

3.     PEMBENIHAN a.     Pemijahan

      Ikan gurami dapat memijah sepanjang tahun, walaupun produktifitasnya lebih tinggi terutama pada musim kemarau.  Adapun hal yang perlu diperhatikan untuk pemijahan ini adalah padat tebar induk, tata letak sarang, panen telur dan kualitas air media pemijahan.  Betina dicirikan dari bentuk kepala dan rahang serta adanya bintik hitam pada kelopak sirip.  Induk jantan ditandai dengan adanya benjolan di kepala bagian atas, rahang bawah yang tebal terutama pada saat musim pemijahan dan tidak adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada.  Sedangkan induk betina ditandai dengan bentuk kepala bagian atas datar, rahang bawah tipis dan adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada.

Padat tebar induk adalah 1 ekor/5 m2  dengan perbandingan jumlah jantan:betina adalah 1:3-4. Penebaran induk di kolam pemijahan dapat dilakukan secara berpasangan (sesuai perbandingan) pada kolam yang disekat ataupun secara komunal (satu kolam diisi beberapa pasangan).  Induk betina dapat memproduksi telur 1 500 sampai dengan 2 500 butir/kg induk.

Sarang diletakkan 1-2 m dari tempat bahan sarang dengan kedalaman 10 -15 cm dari permukaan air. Sarang dipasang mendatar sejajar dengan permukaan air dan menghadap ke arah tempat bahan sarang. 

Tempat bahan sarang diletakkan di permukaan air dapat berupa anyaman kasar dari bambu atau bahan lainnya diatur sedemikian rupa sehingga induk ikan mudah mengambil sabut kelapa/ijuk untuk membuat sarang.  Pembuatan sarang dapat berlangsung selama 1 sampai dengan 2 minggu bergantung pada kondisi induk dan lingkungannya. Pemeriksaan sarang yang sudah berisi telur dapat dilakukan dengan cara meraba dan menggoyangkan sarang secara perlahan atau dengan menusuk sarang menggunakan lidi/kawat dan menggoyangkannya. Sarang yang sudah berisi telur ditandai dengan keluarnya minyak/telur dari sarang ke permukaan air. Sarang yang sudah berisi telur diangkat. Telur dipisahkan dari sarang dengan cara membuka sarang secara hati-hati. Karena mengandung minyak, telur akan mengambang di permukaan air. Telur yang baik berwarna kuning bening sedangkan telur berwarna kuning keruh dipisahkan dan dibuang karena telur yang demikian tidak akan menetas.  Minyak yang timbul dapat dikurangi dengan cara diserap memakai kain. Kualitas media pemijahan yang baik adalah suhu 25-30 oC, Nilai pH 6,5 – 8,0, laju pergantian air 10-15 % per hari dan ketinggian air kolam  40 – 60 cm. b.     Penetasan Telur

Padat tebar telur 4 sampai dengan 5 butir/cm2 dengan ketinggian air 15 – 20 cm. Kepadatan dihitung per satuan luas permukaan wadah sesuai dengan sifat telur yang mengambang.  Untuk mempertahankan kandungan oksigen terlarut, di dalam media penetasan perlu ditambahkan aerasi kecil tetapi harus dijaga agar telur tidak teraduk.  Kualitas air media penetasan yang baik adalah suhu 29 – 30 oC, nilai pH 6,7 – 8,6 dan bersumber dari air tanah.  Bila air sumber mengandung karbondioksida tinggi, nilai pH rendah atau mengandung bahan logam (misalnya besi), sebaiknya air diendapkan dulu selama 24 jam. Telur akan menetas setelah 36 – 48 jam.

 c.     Pemeliharaan Larva Setelah telur menetas, larva dapat terus dipelihara di corong penetasan/waskom sampai umur 6 hari kemudian dipindahkan ke akuarium.  Bila penetasan dilakukan di akuarium, pemindahan larva tidak perlu dilakukan. Selama pemeliharaan larva, penggantian air hanya perlu dilakukan untuk membuang minyak bila minyak yang dihasilkan ketika penetasan cukup banyak.  Sedangkan bila larva sudah diberi makan, penggantian air dapat disesuaikan dengan kondisi air yaitu bila sudah banyak kotoran dari sisa pakan dan “ Faeces “. Pemeliharaan larva di akuarium dilakukan dengan padat tebar 15 – 20 ekor/liter. Pakan mulai diberikan pada saat larva berumur 5 sampai dengan 6 hari berupa cacing Tubifex, Artemia, Moina atau Daphnia yang disesuaikan dengan bukaan mulut ikan. Kualitas air sebaiknya dipertahankan pada tingkat suhu 29 - 30 o C, nilai pH 6,5 – 8,0 dan ketinggian air 15 – 20 cm.  d.     Pendederan I, II, III, IV dan V Pemeliharaan benih pada pendederan I sampai dengan V dapat dilakukan di akuarium atau kolam.  Di akuarium dilakukan sama seperti halnya pemelihaaran larva tetapi perlu dilakukan penjarangan. Sedangkan di kolam perlu dilakukan kegiatan persiapan kolam yang meliputi pengolahan tanah dasar kolam, pengeringan, pengapuran, pemupukan, pengisian air dan pengkondisian air kolam.  Pengolahan tanah dasar kolam dapat berupa pembajakan, peneplokan dan perbaikan pematang kolam.  Pengeringan dilakukan selama 2 – 5 hari (tergantung cuaca). Tingkat Pemeliharaan Produksi Ikan Gurami

No Standar Satuan PI PII PIII PIV PV
1 Padat Tebar Ekor/M2 100 80 60 45 30
2 Ukuran Benih Cm 1,00 2,0 4 6 8
3 Pakan % BB 20 20 10 5 4
    Kali/Hari 2 2 3 3 3
4 Waktu Pemeliharaan Hari 20 30 40 40 40
5 Sintasan % 60 60 70 80 80

  e.     Penyakit Bila teridentifikasi ikan terserang parasit pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian garam  500 – 1000 mg/l dengan cara perendaman selama 24 jam. Sedangkan bila teridentifikasi terserang bakteri pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian oksitetrasiklin dengan dosis 5 -10 mg/l secara perendaman selama 24 jam.

sumber: http://bbat-sukabumi.tripod.com/

Categories: Uncategorized

BUDIDAYA LELE SANGKURIANG……….

December 6, 2007 · 24 Comments

Sumber : Departemen Kelautan dan Perikanan

http://www.dkp.go.id/content.php?c=2558

BUDIDAYA LELE SANGKURIANG
(Clarias sp.)

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air Tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan 1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 3) pemasarannya relatif mudah dan 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.

Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit.

Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penurunan kualitas. Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah. Penurunan kualitas ini dapat diamati dari karakter umum pertama matang gonad, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit dan nilai FCR (Feeding Conversion Rate).

Sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo BBAT Sukabumi telah berhasil melakukan rekayasa genetik untuk menghasilkan lele dumbo strain baru yang diberi nama lele “Sangkuriang”.

Seperti halnya sifat biologi lele dumbo terdahulu, lele Sangkuriang tergolong omnivora. Di alam ataupun lingkungan budidaya, ia dapat memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya. Untuk usaha budidaya, penggunaan pakan komersil (pellet) sangat dianjurkan karena berpengaruh besar terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas.

Tujuan pembuatan Petunjuk Teknis ini adalah untuk memberikan cara dan teknik pemeliharaan ikan lele dumbo strain Sangkuriang yang dilakukan dalam rangka peningkatan produksi Perikanan untuk meningkatkan ketersediaan protein hewani dan tingkat konsumsi ikan bagi masyarakat Indonesia.

Berdasarkan keunggulan lele dumbo hasil perbaikan mutu dan sediaan induk yang ada di BBAT Sukabumi, maka lele dumbo tersebut layak untuk dijadikan induk dasar yaitu induk yang dilepas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dan telah dilakukan diseminasi kepada instansi/pembudidaya yang memerlukan. Induk lele dumbo hasil perbaikan ini, diberi nama “Lele Sangkuriang”. Induk lele Sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6). Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia tahun 1985. Sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. Induk dasar yang didiseminasikan dihasilkan dari silang balik tahap kedua antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan hasil silang balik tahap pertama (F2 6).

Budidaya lele Sangkuriang dapat dilakukan di areal dengan ketinggian 1 m – 800 m dpi. Persyaratan lokasi, baik kualitas tanah maupun air tidak terlalu spesifik, artinya dengan penggunaan teknologi yang memadai terutama pengaturan suhu air budidaya masih tetap dapat dilakukan pada lahan yang memiliki ketinggian diatas >800 m dpi. Namun bila budidaya dikembangkan dalam skala massal harus tetap memperhatikan tata ruang dan lingkungan sosial sekitarnya artinya kawasan budidaya yang dikembangkan sejalan dengan kebijakan yang dilakukan Pemda setempat.

Budidaya lele, baik kegiatan pembenihan maupun pembesaran dapat dilakukan di kolam tanah, bak tembok atau bak plastik. Budidaya di bak tembok dan bak plastik dapat memanfaatkan lahan pekarangan ataupun lahan marjinal lainnya.

Sumber air dapat menggunakan aliran irigasi, air sumu (air permukaan atau sumur dalam), ataupun air hujan yan sudah dikondisikan terlebih dulu. Parameter kualitas air yan baik untuk pemeliharaan ikan lele sangkuriang adalah sebagai berikut:

  1. Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22-32°C. Suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan napsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air.

  2. pH air yang ideal berkisar antara 6-9.

  3. Oksigen terlarut di dalam air harus > 1 mg/l.

Budidaya ikan lele Sangkuriang dapat dilakukan dalam bak plastik, bak tembok atau kolam tanah. Dalam budidaya ikan lele di kolam yang perlu diperhatikan adalah pembuatan kolam, pembuatan pintu pemasukan dan pengeluaran air.

Bentuk kolam yang ideal untuk pemeliharaan ikan lele adalah empat persegi panjang dengan ukuran 100-500 m2. Kedalaman kolam berkisar antara 1,0-1,5 m dengan kemiringan kolam dari pemasukan air ke pembuangan 0,5%. Pada bagian tengah dasar kolam dibuat parit (kamalir) yang memanjang dari pemasukan air ke pengeluaran air (monik). Parit dibuat selebar 30-50 cm dengan kedalaman 10-15 cm.

Sebaiknya pintu pemasukan dan pengeluaran air berukuran antara 15-20 cm. Pintu pengeluaran dapat berupa monik atau siphon. Monik terbuat dari semen atau tembok yang terdiri dari dua bagian yaitu bagian kotak dan pipa pengeluaran. Pada bagian kotak dipasang papan penyekat terdiri dari dua lapis yang diantaranya diisi dengan tanah dan satu lapis saringan. Tinggi papan disesuaikan dengan tinggi air yang dikehendaki. Sedangkan pengeluaran air yang berupa siphon lebih sederhana, yaitu hanya terdiri dari pipa paralon yang terpasang didasar kolam dibawah pematang dengan bantuan pipa berbentuk “L” mencuat ke atas sesuai dengan ketinggian air kolam.

Saringan dapat dipasang pada pintu pemasukan dan pengeluaran agar ikan-ikan jangan ada yang lolos keluar/masuk.

Pelaksanaan Budidaya
Sebelum benih ikan lele ditebarkan di kolam pembesaran, yang perlu diperhatikan adalah tentang kesiapan kolam meliputi:

a.

Persiapan kolam tanah (tradisional)

Pengolahan dasar kolam yang terdiri dari pencangkulan atau pembajakan tanah dasar kolam dan meratakannya. Dinding kolam diperkeras dengan memukul-mukulnya dengan menggunakan balok kayu agar keras dan padat supaya tidak terjadi kebocoran. Pemopokan pematang untuk kolam tanah (menutupi bagian-bagian kolam yang bocor).

Untuk tempat berlindung ikan (benih ikan lele) sekaligus mempermudah pemanenan maka dibuat parit/kamalir dan kubangan (bak untuk pemanenan).

Memberikan kapur ke dalam kolam yang bertujuan untuk memberantas hama, penyakit dan memperbaiki kualitas tanah. Dosis yang dianjurkan adalah 20-200 gram/m2, tergantung pada keasaman kolam. Untuk kolam dengan pH rendah dapat diberikan kapur lebih banyak, juga sebaliknya apabila tanah sudah cukup baik, pemberian kapur dapat dilakukan sekedar untuk memberantas hama penyakit yang kemungkinan terdapat di kolam.

Pemupukan dengan kotoran ternak ayam, berkisar antara 500-700 gram/m2; urea 15 gram/m2; SP3 10 gram/m2; NH4N03 15 gram/m2.

Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang penyaring

Kemudian dilakukan pengisian air kolam.

Kolam dibiarkan selama ± 7 (tujuh) hari, guna memberi kesempatan tumbuhnya makanan alami.

b.

Persiapan kolam tembok

Persiapan kolam tembok hampir sama dengan kolam tanah. Bedanya, pada kolam tembok tidak dilakukan pengolahan dasar kolam, perbaikan parit dan bak untuk panen, karena parit dan bak untuk panen biasanya sudah dibuat Permanen.

c. Penebaran Benih

Sebelum benih ditebarkan sebaiknya benih disuci hamakan dulu dengan merendamnya didalam larutan KM5N04 (Kalium permanganat) atau PK dengan dosis 35 gram/m2 selama 24 jam atau formalin dengan dosis 25 mg/l selama 5-10 menit.

Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari atau pada saat udara tidak panas. Sebelum ditebarkan ke kolam, benih diaklimatisasi dulu (perlakuan penyesuaian suhu) dengan cara memasukan air kolam sedikit demi sedikit ke dalam wadah pengangkut benih. Benih yang sudah teraklimatisasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan yang baru yaitu kolam. Hal ini berarti bahwa perlakuan tersebut dilaksanakan diatas permukaan air kolam dimana wadah (kantong) benih mengapung diatas air. Jumlah benih yang ditebar 35-50 ekor/m2 yang berukuran 5-8 cm.

d.

Pemberian Pakan

Selain makanan alami, untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele perlu pemberian makanan tambahan berupa pellet. Jumlah makanan yang diberikan sebanyak 2-5% perhari dari berat total ikan yang ditebarkan di kolam. Pemberian pakan frekuensinya 3-4 kali setiap hari. Sedangkan komposisi makanan buatan dapat dibuat dari campuran dedak halus dengan ikan rucah dengan perbandingan 1:9 atau campuran dedak halus, bekatul, jagung, cincangan bekicot dengan perbandingan 2:1:1:1 campuran tersebut dapat dibuat bentuk pellet.

e.

Pemanenan

Ikan lele Sangkuriang akan mencapai ukuran konsumsi setelah dibesarkan selama 130 hari, dengan bobot antara 200 – 250 gram per ekor dengan panjang 15 – 20 cm. Pemanenan dilakukan dengan cara menyurutkan air kolam. Ikan lele akan berkumpul di kamalir dan kubangan, sehingga mudah ditangkap dengan menggunakan waring atau lambit. Cara lain penangkapan yaitu dengan menggunakan pipa ruas bambu atau pipa paralon/bambu diletakkan didasar kolam, pada waktu air kolam disurutkan, ikan lele akan masuk kedalam ruas bambu/paralon, maka dengan mudah ikan dapat ditangkap atau diangkat. Ikan lele hasil tangkapan dikumpulkan pada wadah berupa ayakan/happa yang dipasang di kolam yang airnya terus mengalir untuk diistirahatkan sebelum ikan-ikan tersebut diangkut untuk dipasarkan.

Pengangkutan ikan lele dapat dilakukan dengan menggunakan karamba, pikulan ikan atau jerigen plastik yang diperluas lubang permukaannya dan dengan jumlah air yang sedikit.

Kegiatan budidaya lele Sangkuriang di tingkat pembudidaya sering dihadapkan pada permasalahan timbulnya penyakit atau kematian ikan. Pada kegiatan pembesaran, penyakit banyak ditimbulkan akibat buruknya penanganan kondisi lingkungan. Organisme predator yang biasanya menyerang antara lain ular dan belut. Sedangkan organisme pathogen yang sering menyerang adalah Ichthiophthirius sp., Trichodina sp., Monogenea sp. dan Dactylogyrus sp.

Penanggulangan hama insekta dapat dilakukan dengan pemberian insektisida yang direkomendasikan pada saat pengisian air sebelum benih ditanam. Sedangkan penanggulangan belut dapat dilakukan dengan pembersihan pematang kolam dan pemasangan plastik di sekeliling kolam.

Penanggulangan organisme pathogen dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan budidaya yang baik dan pemberian pakan yang teratur dan mencukupi. Pengobatan dapat menggunakan obat-obatan yang direkomendasikan.

Pengelolaan lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan persiapan kolam dengan baik. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan kolam tanah, persiapan kolam meliputi pengeringan, pembalikan tanah, perapihan pematang, pengapuran, pemupukan, pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan bak tembok atau bak plastik, persiapan kolam meliputi pengeringan, disenfeksi (bila diperlukan), pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Perbaikan kondisi air kolam dapat pula dilakukan dengan penambahan bahan probiotik.

Untuk menghindari terjadinya penularan penyakit, maka hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Pindahkan segera ikan yang memperlihatkan gejala sakit dan diobati secara terpisah. Ikan yang tampak telah parah sebaiknya dimusnahkan.

  • Jangan membuang air bekas ikan sakit ke saluran air.

  • Kolam yang telah terjangkit harus segera dikeringkan dan dilakukan pengapuran dengan dosis 1 kg/5 m2. Kapur (CaO) ditebarkan merata didasar kolam, kolam dibiarkan sampai tanah kolam retak-retak.

  • Kurangi kepadatan ikan di kolam yang terserang penyakit.

  • Alat tangkap dan wadah ikan harus dijaga agar tidak terkontaminasi penyakit. Sebelum dipakai lagi sebaiknya dicelup dulu dalam larutan Kalium Permanganat (PK) 20 ppm (1 gram dalam 50 liter air) atau larutan kaporit 0,5 ppm (0,5 gram dalam 1 m3 air).

  • Setelah memegang ikan sakit cucilah tangan kita dengan larutan PK

  • Bersihkan selalu dasar kolam dari lumpur dan sisa bahan organik

  • Usahakan agar kolam selalu mendapatkan air segar atau air baru.

  • Tingkatkan gizi makanan ikan dengan menambah vitamin untuk menambah daya tahan ikan.

ANALISA USAHA
Pembesaran lele Sangkuriang di bak plastik

1.

Investasi

a.

Sewa lahan 1 tahun @ Rp 1.000.000,-

=

Rp

1.000.000,-

b.

Bak kayu lapis plastik 3 unit @ Rp 500.000,-

=

Rp

1.500.000,-

c.

Drum plastik 5 buah @ Rp 150.000,-

=

Rp

750.000,-

Rp

3.250.000,-

2.

Biaya Tetap

a.

Penyusutan lahan Rp 1.000.000,-/1 thn

=

Rp

1.000.000,-

b.

Penyusutan bak kayu lapis plastik Rp 1.500.000,-/2 thn

=

Rp

750.000,-

c.

Penyusutan drum plastik Rp 750.000,-/5 thn

=

Rp

150.000,-

Rp

1.900.000,-

3.

Biaya Variabel

a.

Pakan 4800 kg @ Rp 3700

=

Rp

17.760.000,-

b.

Benih ukuran 5-8 cm sebanyak 25.263 ekor @ Rp 80,-

=

Rp

2.021.052,63

c.

Obat-obatan 6 unit @ Rp 50.000,-

=

Rp

300.000,-

d.

Alat perikanan 2 paket @ Rp 100.000,-

=

Rp

200.000,-

e.

Tenaga kerja tetap 12 OB @ Rp 250.000,-

=

Rp

3.000.000,-

f.

Lain-lain 12 bin @ Rp 100.000,-

=

Rp

1.200.000,-

Rp

24.281.052,63

4.

Total Biaya

Biaya Tetap + Biaya Variabel

=

Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63

=

Rp 26.181.052,63

5.

Produksi lele konsumsi 4800 kg x Rp 6000/kg -Rp 28.800.000,

6.

Pendapatan
Produksi – (Biaya tetap + Biaya Variabel)

=

Rp 28.800.000,- – ( Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63)

=

Rp 2.418.947,37

7.

Break Event Point (BEP)
Volume produksi

=

4.396,84 kg
Harga produksi

=

Rp 5.496,05

Sumber :Buku Budidaya Lele Sangkuriang, Dit. Pembudidayaan, Ditjen Perikanan Budidaya

Categories: Blogroll · IKAN HIAS · Uncategorized

Comparison of PCR testing methods for white spot syndrome virus

December 6, 2007 · 3 Comments

In Thailand, several PCR-based methods are used by private and public service laboratories for the detection of white spot

syndrome virus (WSSV) infection in penaeid shrimp post larvae (PL) before they are stocked in rearing ponds. Conflicting test

results for similar samples sent to two service laboratories has decreased confidence in PCR testing. Thus, we compared the

sensitivity of several PCR methods commonly employed in Thailand using Taqman real-time PCR as the gold standard with a

purified WSSV template stock. Using this stock for assays, we found no significant inhibitory effect by WSSV-free host shrimp

DNA over the range 0 to 300 ng per reaction or by added DNA from WSSV-infected shrimp. Real-time PCR could detect WSSV

with certainty at dilutions of approximately 5 copies per reaction while 1000 copies were needed for a common one-step PCR

method and 50 for a common single-tube nested PCR (1N-PCR) method. Of 2 two-tube nested PCR protocols tested, one required

100 and the other 1000 copies. In addition to these sensitivity tests, a triple-blind ring test was carried out employing sets of 10

WSSV-infected DNA extracts sent to 12 commercial and public laboratories in Thailand, without specifying the PCR method to be

used. Returned results included no false positives and two false negatives, the latter both from light infection vials. This translated

into a test sensitivity of 97.3% and a specificity of 100%. Overall, the results confirmed the validity of PCR-based methods in

Thailand for detection of WSSV in shrimp DNA extracts.

© 2005 Elsevier B.V. All rights reserved.

Keywords: PCR-based methods; White spot syndrome virus (WSSV) infection; Penaeus monodo

Categories: Blogroll · JURNAL · Uncategorized